Saat Tentara Ingin Keluar Barak : Era Kebangkitan Orde Baru
Cari Berita

Advertisement

Saat Tentara Ingin Keluar Barak : Era Kebangkitan Orde Baru

Jumat, 29 September 2017

(Foto : Sipayo.com)
Orde Baru identik dengan rezim represif yang disokong militer. Demokrasi diberangus, kebebasan dirampas. Hidup hanya dengan satu Channel televisi yang bernama TV RI. Dan beberapa koran yang dijaga rapi. Semua berdasar 'petunjuk' kata mentri penerangan yang juga ketua Golkar saat itu. Lembaga sensor bermata serigala. Tajam mematikan.

Etalase dimana bangsa kita pernah hidup sesak karena aspirasi tidak di dengar. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul menjadi barang mewah. Ekonomi sebagai panglima tulis Mochtar Mas'ud saat menyebut rezim Soeharto, berbanding terbalik dengan masa orde lama.

Dwi Fungsi membuat ABRI kuat. Kadang berfungsi sebagai alat kontrol penguasa. Dan kokoh di belakang rezim. Menjaga stabilitas politik dan stabilitas sosial. Meski tidak punya hak pilih tapi tentara terutama angkatan darat menguasai kekuasaan dari hulu sampai hilir.

Reformasi bergulir. Rakyat jengah dengan rezim represif. Dwi Fungsi ABRI dicabut karena tidak relevan dengan semangat reformasi yang mengusung demokrasi. Militer kembali ke barak. Tak lagi boleh ngurus politik apalagi kekuasaan.

ABRI mereformasi diri secara internal, salah satunya memberi peran sosial kepada kepolisian sebagai penjaga. Ada pro kontra memang di tubuh militer saat itu. Ada persaingan pada pembagian wilayah kerja yang belum sempurna. Konflik kecil-kecil sering mengemuka. Silang sengkarut impor senjata salah satunya, ada garis koordinasi yang putus.

Selama beberapa warsa tentara harus puasa. Menahan diri di barak. Menjauh dari hiruk pikuk kekuasaan. Pesta demokrasi tanpa kehadiran tentara. Panglima silih berganti kuat bertahan dari godaan kekuasaan.

Dalam beberapa bulan terakhir, godaan kekuasaan kuat menggiurkan. Ada upaya menarik serdadu keluar barak. Mungkin pula tentara sudah jengah melihat sipil tak pecus berkuasa. Pemerintahan gaduh karena tentara menjauh. Mungkin sedang dibangun persepsi bahwa sipil tak layak menjadi penguasa. Dan tentara diharap hadir menguati.

Dalam beberapa pernyataan resmi panglima, jelas ada pesan kuat akan mengambil kembali peran stabilitas sosial dan politik atau dwi fungsi yang pernah diambil paksa. Dan itu menarik. Tentara ambil beberapa bagian penting termasuk mencari dukungan akar rumput. Kita tunggu seperti apa drama politik tahun depan.

Sayangnya umat Islam tak punya figur yang bisa menyatukan. Meski kuat pada masa akar rumput dan gigih dalam perjuangan tetapi selalu ditinggal saat kue kekuasaan dibagi bahkan cenderung ditinggal beberapa kali.

Umat Islam bisa satu shaf saat berjihad tapi tak pernah bisa satu saat menentukan pemimpin dan itu peluang bagi kaum upportunis untuk memenangi pertarungan pada injuretime.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar