Pudarnya Budaya Rimpu : Rimpu Mpida dan Rimpu Colo
Cari Berita

Advertisement

Pudarnya Budaya Rimpu : Rimpu Mpida dan Rimpu Colo

Sabtu, 16 September 2017

Contoh Rimpu Colo dan rimpu Mpida (Foto : Alfian Tuflih. Wordpress.com)


Masyarakat Mbojo (Bima-Dompu) merupakan kelompok masyarakat yang mayoritas memeluk agama islam yang telah diwariskanka oleh para leluhur zaman dahulu. Masyrakat Mbojo bisa dikenal sebagai masyarakat yang berpengan teguh pada keyakinan dalam ajaran agama islam, sehingga pada zaman dahulu masyrakat ini menggunakan tembe ngoli (sarung tenun khas Mbojo) sebagai penutup kepala yang digunakan sebagai penganti jilbab saat itu.

Rimpu mulai dikenal sebagai budaya Mbojo pada tahun 1920-an yang mana pada saat itu hanya dikenakan oleh wanita-wanita di Rasanae (Bima kota saat ini). Penggunaan rimpu pada abad 18 hingga 20 hanya digunakan oleh wanita-wanita melayu jika dikenakan oleh wanita Mbojo, mereka adalah anak dari Lebe ( Imam dan Ulama). Oleh karena itu penggunaan rimpu mulai menyebar di berbagai daerah sekitarnya. Rimpu biasanya dikenakan wanita ketika berpergian atau keluar dari rumah sebagai pakaian penutup bagian kepala dan muka (rimpu mpida dan rimpu colo) sebagai nilai kehormatan dalam ajaran agama islam bagi seorang wanita.

Rimpu mpida merupakan penggunaan tembe ngoli yang digunakan oleh wanita Mbojo yang masih perawan untuk menghindari godaan dan fitnah luar yang digenakan langsung menutup sebagian wajahnya (sejenis cadar saat ini), sedangkan rimpu colo merupakan penggunaan rimpu biasa yang digenakan oleh wanita yang telah menikah, sehingga dapat dibedakan antara wanita yang belum menikah dan sudah menikah.

Penggunaan rimpu baik rimpu mpida ataupun rimpu colo pada saat ini jarang terlihat bahkan tidak kita jumpai lagi. Masyarakat Mbojo sedikit demi sedikit sudah meninggalkan budaya rimpu ini, penggunaan rimpu telah bergeser dengan munculnya pakaian penutup kepala yang lebih praktis dan modern di masyarakat kita saat ini. Rimpu tidak lagi digunakan sebagaimana mestinya yakni symbol kehormatan seorang wanita. Saat ini penggunaan rimpu hanya dikenakan ketika ada kegiatan-kegiatan tertentu saja seperti kegiatan pawai budaya.
Foto : Penulis
Penggunaan rimpu saat ini telah luntur dari esensi estetik dari rimpu itu sendiri, sebab penggunaannya kini menggunana alat perindah seperti bros, pentul, dan hiasan yang menghilangkan nilai estetika dari rimpu itu, sebab penggunaan rimpu saat ini banyak mengikuti trand zaman saat ini, yang semestinya sebagai masyarakat budaya Mbojo bangga menggunakan pakaian adat dan wajib melestarikannya sehingga anak cucu kita mengenal akan indahnya kebudayaan Mbojo dan mengenal identitas diri sebagai masyarakat budaya Mbojo.

Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh masyarakat Mbojo (Bima -Dompu) untuk terus melestarikan budaya RIMPU ini sampai akhir menutup mata.

Penulis : Ratu Rohullah (Peserta lomba menulis artikel Bima dan Dompu tempoe doeloe).