Prospek Kabupaten Bima Dari Masa-kemasa
Cari Berita

Advertisement

Prospek Kabupaten Bima Dari Masa-kemasa

Selasa, 19 September 2017

Kesultanan Bima (Foto : picssr.com ).
Bima mereupakan salah satu kabupaten yang berada di ujung timur Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam perspektif sosial-historis, konon kata Bima merupakan nama serapan dari salah seorang anak Kerajaan Mataram yang berada di pulau Jawa, yang selanjutnya digunakan sebagai nama sebuah daerah yang terletak dikawasan Indonesia timur yaitu tanah Mbojo (Bima).

Sejarah mencatat bahwa tanah Mbojo (Bima) pernah melahirkan beberapa raja seperti Sultan Abdul Kahir, Sultan Salahudin, dan yang terakhir dalam konteks kekinian telah diangkat seorang yang otoritasnya identik dengan raja yaitu Jena Teke putranya (alm) mantan Bupati Bima Fery Zulkarnain.

Pada dasawarsa 1960-1970an di awal-awal peralihan statusnya dari sistem kerajaan (kingdom system) ke sistem demokrasi (democracy system) dimana yang berpartisipasi penuh adalah masyarakat atau dengan kata lain (the other word) rakyatlah yang menentukan seorang pemimpin bukan lagi sistem turun temurun seperti yang berlaku pada sistem kerajaan, Bima masih dalam proses mencari jati diri sebagai bangsa atau daerah yang berdaulat dengan mengirimkan putra-putri terbaiknya keluar menuju tanah rantau guna menuntut ilmu dengan harapan setamatnya dari perguruan-perguruan ternama tersebut mampu memberikan sumbangsih dalam rangka membangun Bima tercinta.

Salah satu putra-putri terbaik tersebut ialah HJ. Siti Maryam Rakhmat Muhammad Salahudin (Ina Ka’u Mari), beliau merupakan saudara dari bapaknya Bupati Bima Periode 2005-2010 Fery Zulkarnain.

Ina Ka’u Mari, setamat dari sekolah rakyat (SR) langsung masuk pada Fakultas Hukum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dengan mengambil jurusan Ilmu Hukum. Dengan demikian tanah Mbojo (Bima) bukanlah daerah yang pasif dalam merespon perubahan yang terjadi, karena terbukti untuk mengkonstruk Bima yang lebih baik, pemerintah pada saat itu mengirim putra-putrinya untuk belajar di luar daerah Bima terutama di pulau Jawa. 

Pertengahan tahun 1990an atau memasuki awal abad ke-20 putra-putri bima tidak hanya belajar didalam Negeri sendiri namun ada juga yang sampai ke luar Negeri, seperti di Amerika, Australia, dan di Negara-negara Eropa. Ini menunjukan bahwa spirit, tekad, dan komitmen untuk membangun peradaban (civilization building) yang lebih baik patut di apresiasi dan didukung sebagai langkah strategis dalam menata kehidupan.

Disisi lain dengan munculnya orang-orang yang di gadang-gadang sebagai pelopor kemajuan dan perkembangan tersebut, justru melahirkan ketimpangan sosial (social imbalance) dengan menyalahgunakan kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki untuk mengejar kepentingan dan keuntungan pribadi (personal benefit).

Fakta inilah yang sekarang terjadi di tanah Mbojo (Bima), apalagi pada saat moment Pileg atau Pilbup, seringkali para calon yang nobene sebenarnya mereka adalah orang-orang yang mencerahkan yang harusnya sebagai agent of change dan social of control justru menipu rakyat dengan retorika yang berlipat-lipat dan mengangkasa tanpa di imbangi perbuatan secara nyata dan membumi.

Fakta diatas perlu dipertanyakan kenapa bisa terjadi? Dimana letak spirit, tekat, dan komitmen yang di canangkan pada awal dibangunnya daerah Bima tercinta menjadi daerah yang maju dan mampu bersaing dengan daerah-daerah lainya.

Apakah Bima tercinta ini tidaklah layak menjadi daerah yang mampu memberi tauladan positif kepada daerah lainya, ataukah dikembalikan saja kepada sistem kerajaan (kingdom system) seperti dulu, dimana rakyat merupakan bagian dari hak milik seorang raja yang segala sikap dan tindakannya tidak boleh bertentangan dengan kemauan seorang raja.

Penulis : Nahrul Saputra