Muhammadiyah - NU Di Jalan Simpang
Cari Berita

Advertisement

Muhammadiyah - NU Di Jalan Simpang

Senin, 11 September 2017

Logo Muhammadiyah dan NU dalam bendera Merah Putih (foto : Panjimas)
Sebahagian kita bilang bahwa NU adalah sekumpulan orang tradisional. Kalau shalat tidak teratur. Masjidnya gaduh dengan pengeras suara sampai malam. Shalawat dibaca ramai. Tahlil, kenduri, kirim pahala dan ulama yang dicium tangannya. Sarung dan kopyah tak ketinggalan. Kebanyakan belajar di pesantren. Dan patuh buta, yang biasa disebut taqlid.

Kemudian sebahagian yang lain beranggapan bahwa MUHAMADIYAH adalah kumpulan anak muda yang suka menyela pembicaraan. Banyak bertanya. Gampang bilang takhayul, bid'ah, churafat, dan musyrik, bahkan beberapa malah suka mengkafirkan dan menyesatkan. Melawan kemapanan. Egaliter, terkesan kurang mengindahkan adab dan tata krama. Tidak menghormati ulama. Anti budaya, sebagian malah cenderung mengusung budaya Arab.

Cermati dua mainstream diatas. Dua stereotype negatif yang ada di pikiran kita. Bayangkan kalau keduanya ketemu dalam satu panggung. Ibarat kapal keduanya punya penumpang yang banyak. Suka atau tidak suka MUHAMMADIYAH dan NU merepresentasi realitas umat Islam di Indonesia. Kemudian dua kapal sarat penumpang itu bertabrakan di satu titik: brrrruuuurrr ... ".

Dua nahkoda di kapal besar itu menjadi taruhan. Jujur kali ini nahkoda NU terkesan profokatif. Suka menyulut konflik dan sering bermain di wilayah politik. Dalam beberapa kasus malah sibuk melawan teman seiring seperjuangan.

Penyematan stigma negatif pada teman sepergerakan mulai dari: Wahaby, intoleran, radikal dan masih banyak lagi. Ironisnya justru akrab dengan kelompok lain iman. Bahkan tak satu patah kata prihatin untuk saudaranya di Rohingyae, tapi sangat keras dengan FDS. Dan ambigu terhadap kelompok Islam yang dianggap intoleran. Terakhir bikin heboh membubarkan pesantren MUHAMMADIYAH di Karimunjawa yang dituduh Wahaby (dalam tabayyun).

Tidak tahu siapa mulai duluan lalu bersinggungan kemudian. Tak dipungkiri bahwa ada sebagian warga MUHAMMADIYAH yang gampang membid'ahkan. Memberi label sesat bahkan musyrik terhadap amalan yang dilakukan warga NU. Seakan semua yang dilakukan jamiiyah NU jauh dari sunah. Menabalkan NU adalah sekumpulan ahli bid'ah yang harus diberantas.

Keduanya baik MUHAMMADIYAH dan NU berada di jalan simpang. Kerap bersinggungan dan konflik kecil-kecil. Di sebagian daerah akrab bersahabat, di sebagian yang lain bersitegang.

Pada akhirnya semua bergantung pada siapa yang pegang. Mau berkonflik atau bersahabat itu pilihan. Karena selisih hanya pada soal furu. Di Kotaku, kita bersahabat sangat akrab. Meski ada yang mendorong berselisih agar tak dianggap lembek. Tak mengapa, setidaknya kita telah melakukan sesuatu.

Bagi saya, NU adalah sahabat dekat, meski sering mencubit.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar