Minasarua Minuman Berenergi, Khas Masyarakat Bima Sejak Dulu
Cari Berita

Advertisement

Minasarua Minuman Berenergi, Khas Masyarakat Bima Sejak Dulu

Jumat, 22 September 2017

Minasarua (foto : mynetblogaddressuriansyah.blogspot.com)
Bima adalah sebuah kota yang terletak di bagian ujung timur dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selain terkenal dengan susu kuda liarnya, di Bima juga terdapat minuman khas lainnya, salah satunya minasarua.

Minasarua terbuat dari rebusan ketan hitam yang telah difermentasi selama kurang lebih 2 hari untuk dijadikan tape, lalu dicampurkan dengan rempah-rempah dasar seperti jahe, merica, kunyit, cabe jawa, kayu manis, dan lain-lain yang telah disangrai kemudian ditumbuk halus. Setelah itu disediakan juga galendo atau ampas minyak, dari santan kelapa tua yang dimasak hingga membentuk ampas minyak / galendo. Kemudian galendo ini dicampurkan dengan rebusan tape ketan dan rempah-rempah tadi. Minasarua dapat kita temukan di sekitaran Sila Kecamatan Bolo, kampung Sumbawa desa Bontokape dan sekitar Dusun Darussalam.

Salah satunya yaitu di Warung Minasarua SAIJAH tepat di tikungan Dusun Darussalam. Warung ini berada di pinggir jalan diapit oleh hamparan sawah hijau yang luas nan indah. Rasanya tidak afdol jika anda berkunjung ke Bima tidak mencicipi minasarua ini.

Minasarua sangat cocok dinikmati dalam keadaan hangat pada malam hari atau kala hujan turun saat cuaca dingin. Selain nikmat ketika disantap, minasurua juga memiliki banyak manfaat bagi tubuh diantaranya yaitu mampu meningkatkan kebugaran tubuh, mengurangi rasa pegal selesai kerja, mengobati penyakit magh, menghangatkan tubuh, manambah nafsu makan, meningkatkan stamina, dan lain-lain. Tidak heran jika minasarua disebut sebagai minuman berenergi, Karena didalamnya ada ketan hitam yang mengandung karbohidrat, serta rasa hangat yang didapat dari rempah-rempahnya dan khasiat lainnya.

Konon minasarua ini berasal dari minyak saruang Sumbawa. Kampung Sumbawa sendiri awalnya merupakan perkampungan suku Sumbawa yang merantau dan bermukim di Bima. Saruang dalam tradisi suku Sumbawa berarti tape ketan hitam yang dicampur dengan galendo. Karena bahasa Bima merupakan bahasa yang vokalis, yaitu diakhir kata tidak mengenal konsonan dan selalu diakhiri dengan huruf vocal, maka konsonan terakhir menjadi hilang sehingga menjadi ‘sarua’. Sedangkan minyak dalam bahasa Bima adalah ‘mina’. Sehingga kemudian terkenal menjadi ‘minasarua’.

Minasarua kini telah menjadi salah satu kuliner lokal yang wajib dikunjungi apabila anda berkunjung ke Bima. Namun sayangnya, pemerintah kurang memperhatikan pengembangan produk lokal. Banyak penjual yang belum mengetahui cara mengemas minuman ini agar tampak istimewa, berharga, dan bisa tahan lama (awet), sehingga dapat dipasarkan ketingkat Nasional maupun Internasional.

Seharusnya, sudah saatnya penjual minasarua mendapatkan pemberdayaan secara komprehensif dilakukan mulai dari proses produksi serta upaya dan terobosan untuk mengangkat potensi pasar yang masih terpendam itu.

Penulis : Alifia Arrosida (peserta lomba menulis artikel Bima-Dompu tempo doeloe).