Makrifat Politik
Cari Berita

Advertisement

Makrifat Politik

Senin, 25 September 2017

Presiden Jokowi dan Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi (Foto : Tribun Medan - Tribunnews.com)

Alhamdulilah sebagai bangsa, kita kembali terhormat, setidaknya penghargaan PBB terhadap diplomasi perlawanan praktik genosida Minoritas Rohingyae di apresiasi positif dunia internasional. Pengakuan obyektif di tengah ambigu. Langkah cerdas, baru dan segar. Kita menjadi negara terdepan dan diterima di Rakhinae.

Diplomasi sunyi Jokowi memecah kebekuan dari model yang dipraktikkan negara-negara sahabat yang konvensional. Cara yang santun dan mengedepankan moralitas, menghormati kedaulatan dan humanitas. Bukan dengan pernyataan keras atau kecaman. Apalagi dipolitisir untuk kepentingan kelompok atau golongan.

Meski ada upaya untuk mendelegitimasi dan kampanye buruk. Bagaimanapun kebijakan luar negeri kita cukup ampuh mematahkan berbagai stigma buruk. Persaudaraan dan persahabatan nyatanya masih diperlukan apalagi ditengah situasi buruk.

Teringat perjalanan politik Rasulullah ke Tsaqif tempat kerabat ayahnya Abdullah bin Abdul Muthhalib tinggal. Beliau berkunjung berharap mendapat kan suaka dari teror dan intimidasi kaum kafir quraisy. Bilal, Rabbah, Yasir mendapat perlakuan sangat buruk.

Tarikh menyebut ini tahun duka cita (Aml Huzn) Khadijah ra isterinya dan Abu Thalib pamannya wafat. Dua orang berpengaruh itu tak lagi ada bersama. Perlakuan buruk kian menjadi.

Rasulullah berikhtiar mencari bantuan dan suaka meski ditampik. Bahkan risalahnya juga didustakan. Dikejar orang pandir dihantam batu hingga pelipis nya berdarah. Penduduk langit marah. Jibril menawarkan menenggelamkan atau memberi hujan batu kepada yang telah menzalimi Rasulullah. Tapi Rasulullah menolak halus dan berkata " kalau mereka dibinasakan kepada siapa lagi aku berdakwah".

Uswah Rasulullah. Tetap bersabar ketika dizalimi, difitnah atau dibully. Tetap bersikap baik. Bahkan membalas dengan kebaikan meski kalau mau bisa membalas setimpal.

Makrifat bukan monopoli milik kaum sufi. Politik juga. Bukankah politik itu bertujuan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Jadi klise kalau kemudian ada sekelompok orang bilang bahwa politik kekuasaan itu rendahan. Bagaiamana mungkin berpolitik tapi tidak ingin berkuasa. Pasti abal-abal.

Menjadi Ketua sebuah Partai Politik adalah capaian tertinggi seorang politisi. Seperti halnya seorang ulama menjadi mufti pada kumpulan ulama atau Syaikh pada sebuah Universitas. Atau seorang prajurit menjadi panglima. Lalu bagaimana bila seorang politisi berhasil meraih posisi sebagai Presiden, orang nomor satu di sebuah negara atau kerajaan. Itulah puncak keberhasilan politisi.

Pada akhirnya setiap kita akan duduk ditempat dimana kita memandang. Dan pandangan itu bergantung pada seberapa mampu kita melihat dengan mata hati. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar