Kuliner Warga Bima Tempoe Doeloe : Dari Lidah Turun Ke Hati
Cari Berita

Advertisement

Kuliner Warga Bima Tempoe Doeloe : Dari Lidah Turun Ke Hati

Sabtu, 16 September 2017

Foto : Penulis
Di mata dunia, negara Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan keragaman warisan tradisi, adat istiadat dan budaya khas Nusantara, baik bahasa, pakaian, alat musik, tari-tarian, maupun kuliner. Dalam hal kuliner, Indonesia -dari Sabang hingga Marauke- memiliki hidangan kuliner dengan citarasa yang beragam khas daerah masing-masing.

Tulisan berikut ini akan mengulas kekayaan hidangan kuliner tradisional khas Bima -salah satu daerah asri yang terletak di ujung Timur pulau Sumbawa- yang dapat memanjakan lidah pembaca yang budiman. Beberapa hidangan khas Bima tempoe doeloe di antaranya yaitu mangge mada, jame, mbuhi dungga, samba sepi, doco fo’o,uta mbeca parongge, pangaha bunga, pangaha sinci ka bo’e, mina sarua, dan lain sebagainya.

Sebagai daerah yang berada di kawasan pesisir, hidangan khas Bima didominasi oleh olahan berbahan dasar seafood, seperti ikan, cumi-cumi, kerang, udang, dan lain sebagainya yang diolah dengan citarasa gurih dan asam. Salah satu contoh misalnya mangge mada.

Mangge mada atau gulai jantung pisang merupakan salah satu makanan khas Bima yang berbahan dasar ikan atau udang yang campurkan dengan potongan jantung pisang yang telah direbus, santan serta ditambah dengan perasan jeruk nipis dan bumbu rempah-rempah. Tidak jauh berbeda dengan mangge mada, olahan berbahan dasar ikan lainnya yaitu jame. Makanan ini umumnya terbuat dari ikan teri kecil segar atau uta mene yang masih basah, kemudian dimasak dengan santan, bumbu kunyit, serta dapat ditambahkan dengan potongan buah blimbing wuluh atau blimbing sayur.

Selain itu, masyarakat Bima juga cukup tinggi mengkonsumsi sayur kelor, baik daun maupun buahnya. Selain baik bagi kesehatan, tumbuhan kelor ini tumbuh subur di daerah Bima, tidak heran jika masyaraat Bima banyak mengkonsumsi sayur hijau ini. Oleh masyarakat setempat, sayur ini diolah menjadi masakan sayur bening. Bima juga memiliki aneka ragam sambal. Beberapa di antaranya yang cukup terkenal yaitu doco fo’o, samba sepi,mbuhi dungga, dan ka honggu. Sambal doco fo’o yang berbahan utama mangga muda yang dicacah kecil dan dicampur dengan potongan cabai merah, bawang merah, serta garam. Sambal lainnya yaitu samba sepi. Sambal yang satu ini berbahan utama udang yang berukuran super kecil atau oleh masyarakat Bima menyebutnya sepi. Cara membuat sambal ini cukup mudah, yaitu udang kecil atau sepi ditumis hingga harum, kemudian tambahkan garam dan penyedap rasa secukupnya, serta daun kemangi agar aromanya makin sedap.

Selain dimasak, sebagian masyarakat Bima juga banyak yang mengkonsumsi sepi mentah secara langsung, tanpa dimasak terlebih dahulu. Baik mentah maupun yang telah dimasak, samba sepi ini cocok dimakan sebagai sambal lalapan.

Sambal lainnya yang tidak kalah unik yaitu mbuhi dungga. Sambal khas Bima yang satu ini banyak dijumpai di wilayah Parado -sebuah tempat di daerah pegunungan selatan kabupaten Bima yang sejuk dan di tempat tersebut terdapat sebuah bendungan besar yang dikenal dengan ‘Bendungan Parado’. Sambal mbuhi dungga ini berbahan dasar buah jeruk purut matang yang diparut, kemudian direbus dan diuleg dengan cabai serta garam, selanjutnya difermentasi dalam wadah tertutup rapat, dan dikemas untuk dipasarkan. Kini, sambal ini menjadi salah satu komoditas usaha masyarakat Parado.

Sambal khas lainnya yaitu ka honggu. Ka honggu adalah makanan khas daerah Lambitu yang berbahan dasar kepiting hutan yang ditumbuk dengan berbagai rempah-rempah, kemudian dimasukkan dalam batang bambu untuk selanjutnya difermentasi. Karena letak wilayah Lambitu yang berada di daerah pegunungan dan jauh dari pantai dan laut, masyarakat setempat mengkonsumsi makanan ini untuk memenuhi kebutuhan protein harian mereka.

Selain makanan, dana Mbojo atau tanah Bima juga kaya akan jajanan khas tradisional, seperti pangaha bunga, pangaha sinci kabo’e, pangaha balu, pangaha jinta, ponte kalo, ponte ponda, dan lain sebagainya. Jajanan tradisonal Bima selalu hadir dalam berbagai acara masyarakat, seperti acara hajatan pernikahan, pengajian, dan lain sebagainya.

Selain makanan, Bima juga kaya akan minuman khas, seperti madu hutan, susu kuda liar, dan mina sarua. Mina sarua merupakan salah satu minuman yang banyak diproduksi oleh masyarakat Sila. Bahan utama minuman ini adalah ketan hitam, minyak kelapa asli, rempah-rempah seperti jahe, cengkeh, dan lain sebagainya. Semua bahan tersebut direbus hingga mengental seperti bubur. Mina sarua ini cocok dikonsumsi sebagai minuman penghangat tubuh.

Kuliner Nusantara khas Bima tersebut di atas tidak dapat dijumpai di tempat lain, dan menjadi warisan budaya yang perlu dijaga oleh semua pihak agar tetap lestari hingga anak cucu dan generasi selanjutnya dapat merasakannnya kuliner khas dana Mbojo yang nikmatnya dari lidah turun ke hati.

Penulis : Chusnul Chotimah (Peserta Lomba Menulis Artikel Bima dan Dompu Tempoe Doeloe).