KPK itu : Rakib dan Atid
Cari Berita

Advertisement

KPK itu : Rakib dan Atid

Senin, 25 September 2017

Gedung KPK (Foto : FAJAR.co.id)
Di setiap kita ada dua malaikat pengawas. Tidak terlewat meski hanya seinci. Semua yang kita lalukan dicatat rinci bahkan meski masih tersembunyi di dalam dada. Baik perbuatan yang sudah dinyatakan atau masih dalam wilayah niat, tak ada yang bisa disembunyikan. Semua dicatat teliti. Tanpa sisa.

Raqib mencatat semua amal baik. Berada dibagian tubuh sebelah kanan. Semua amalan baik, dicatat rapi, tak ada pengurangan atau tambahan. Setiap yang baik dicatat dua kali. Dengan tinta yang tak bisa dihapus lagi.

Atid berada di bagian tubuh sebelah kiri. Atid mencatat semua yang buruk. Teliti dan rinci. Berbeda dengan Raqib, Atid tidak mencatat perbuatan buruk yang masih dalam wilayah niat. Atid juga hanya mencatat satu poin bukan dua. Itupun dengan tinta pensil yang mudah dihapus. Sambil terus berdoa memohon pemaafan setiap perbuatan buruk.

Dua malaikat itu (Raqib dan Atid) terus mengawasi. Tidak pernah lalai karena dua malaikat itu tak pernah istirahat apalagi tidur. Terus mengawasi dari awal pagi, hingga malam menjelang pagi lagi.

Jujur dan dijamin tidak menerima suap dalam bentuk apapun. Mereka membuat track record siapa kita, untuk dilaporkan kepada Allah Yang Maha Menghisab. Pada hari pembalasan semua catatan itu dikumpulkan kemudian diberikan kepada kita. Apakah Raqib dari tangan kanan atau Atid dari tangan kiri kita terima catatan amal. Bergantung banyak mana kita berbuat.

Jangan dipikir alat tulis keduanya hanya berupa kertas, pensil dan penghapus. Itu merendahkan menurut saya. Kemampuan teknologinya sangat canggih tak terbayang oleh pikiran kita. Bahkan ribuan tetes air wudhu yang jatuh pun dapat dicatat rapi tak ada yang terlewat. Jadi jangan pernah meremehkan dengan bentuk apapun.

Nyatanya kita lebih takut KPK ketimbang Raqib dan Atid. Bukankah sudah seharusnya kita tertangkap basah setiap hari. Ada kamera yang bisa diputar ulang, mendeskripsikan semua perbuatan kita. Lalu diperlihatkan kepada kita untuk klarifikasi di Padhang Makhsyar.

Bagi yang suka membuka aib sesama, maka amal perbuatan kita akan dipertontonkan kepada semua makhluk sebagai pembalasan. Kemudian kita dipermalukan sebagaimana kita telah mempermalukan ketika di dunia.

Salah itu soal biasa. Sebab kita memang diciptakan untuk lupa dan salah. Allah akan membinasakan kaum yang tidak mau berbuat salah. Kemudian menggantinya dengan kaum yang mau berbuat salah dan bertaubat. Demikian nabi saw berujar. 

Hujatan tak akan memperberat hukuman, pujian juga tak akan meringankan hukuman. Semua kita ambil hikmahnya sebagai cermin dan pelajaran. Agar kita mendekat bertawakal.

Jadi tak patut merendahkan orang khilaf. Boleh jadi pencuri, pezina, pencopet dan koruptor telah bertaubat. Dia mendapat pahala taubat dari sesalnya. Sebagaimana pahala taubat perempuan pezina yang lebih dari cukup dibagi pada penduduk Madinah. Sementara para penghujat dan peng-ghiba terus merendahkan, bergelimang dosa karena syu' dan prasangka buruknya.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar