Ketika Agama Menjadi Sumber Konflik
Cari Berita

Advertisement

Ketika Agama Menjadi Sumber Konflik

Senin, 18 September 2017

Foto : Penulis
Agama menempati urutan teratas dari berbagai konflik yang merebak dalam sejarah kemanusiaan. Tak tahu mengapa. Setidaknya konflik antar agama dan internal agama menjadi sumber petaka segala bencana. Peperangan, persaingan bahkan genosida.

Agama sebagai penyebab konflik dan peperangan nomor wahid. Sangat mengejutkan. Berbagai survey menyatakan demikian. Setidaknya Pusat Studi Islam dan Kebijakan Universitas Syarif Hidayatullah mendeskripsikan perang antar dan inter agama berlangsung sistematis dan kronis. 

Derrida menulis tentang messianis tanpa agama. Dalam sebuah buku yang agak ruwet 'The Specters of Marx' dia memimpikan tentang kehidupan yang damai tanpa pertengkaran dan konflik. Hadir sosok messiah atau ratu adil yang dapat menghilangkan semua perselisihan dan pertengkaran bahkan jutaan manusia rela mati membela agama.

Derrida tak sepenuhnya benar. Mungkin dia hanya muak dengan segala konflik yang bersumber dari agama. Kresten dan Katholik berpecah menjadi puluhan sekte. Budha Mahayana dan Hinayana. Yahudi Hitam dan ortodox. Islam Sunni dan Syiah, Hindhu dengan berbagai varian aliran. 

Semuanya diawali dengan pertengkaran sebelum saling membunuh atas nama agama. Sepertinya kita tak pernah kehabisan bahan untuk bertengkar. Bahkan Islam seakan tak punya konsep membuat Muhammadiyah dan Nahdhiyin rukun.

Bosan dengan pertengkaran dan konflik, Ibnu 'Araby seorang sufi mashur itu menyatakan diri menganut agama cinta dan kasih. "Kemanapun onta-onta Cinta itu berangkat .. ke sana jugalah agama dan imanku lekat", katanya ringkas. 

Kebanyakan kita menghendaki kesempurnaan. Final dan absolut. Lalu menafikkan yang lain. Bahwa agama Islam sempurna kita bersepakat. Islam agama sempurna tapi penganutnya tak ada yang sempurna. A Quran juga sempurna tapi pembacanya tak ada yang sempurna. Tapi kebanyakan kita merasa telah sempurna. Itulah pangkal segala selisih. Islam itu baik, benar dan sempurna. tapi maaf, sekali lagi bukan kita. Dan soal besarnya adalah : kita merasa telah sempurna. merasa kafah. Dan itulah pangkal segala selisih. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar