Kerisauan Dalam Perekrutan Calon Anggota HMI
Cari Berita

Advertisement

Kerisauan Dalam Perekrutan Calon Anggota HMI

Minggu, 10 September 2017

Foto : Penulis
Dalam kaca mata saya, yang menjadi pertanyaan paling mendasar ialah mengapa ketika memasuki momentum Bassic training (LK-1) HMI khususnya selalu di "iming-imingi" dengan foto para tokoh, mulai dari Wakil presidenlah, kepala daerahlah serta tokoh yang bergelut dalam profesi lainnya. Padahal jika bicara berHMI atau meng-LK-kan mahasiswa baru tidak muluk-muluk terjadi begitu saja. Justru malah akan menambah harapan yang berujung pada sakit hati calon anggota atau anggota kedepannya.

Disatu sisi memang positif adanya dengan memasang para tokoh dalam sebuah brosur HMI guna menarik minat mahasiswa baru, tapi di sisi lain tidak juga positif yang itu tidak kita ketahui bersama. Misalnya harapan calon anggota ingin seperti tokoh ini dan itulah seperti yang terpampang di brosur atau sejenisnya.

pertanyaan lanjutnya ialah apakah ia bisa seperti para tokoh itu, apakah aparatur komisariat mampu mewujudkan itu? Jika tidak, wajar saja banyak anggota yang kabur satu persatu, karena apa yang mereka impikan jauh berbeda dan tidak sesuai dengan apa diinginkan. Ditambah sikap atau sifat dari aparatur itu sendiri yang mereka anggap tidak mencerminkan kader HMI.

Oleh karenanya sebagai kader HMI yang pernah berproses didalamnya, begitu banyak kerisauan saya dalam melihat, menganalisa serta proses-proses yang terjadi di tubuh HMI.

Salah satunya lagi ialah, mungkin hanya sedikit komisariat yang patuh akan konstitusi dalam artian bahwa metode perekrutan yang rasional dan konstitusional itu seperti apa yang konstitusi nyatakan yaitu dimulai atau diperkenalkan ketika mereka masih berstatus sebagai siswa tapi bukan sebagai mahasiswa. Mengapa demikian, karena pada tahap itulah menurut saya tahapan yang paling "sakral" dari semua tahapan untuk mendapatkan anggota baru. Tinggal pada tahap mahasiswanya mereka sudah menemukan gambaran akan berlabuh ke organisasi mana nantinya.

Tapi bukan dengan cara-cara menghadirkan "harapan" melalui foto para tokoh yang terpampang dalam sebuah brosur.

Selain itu juga, bukankah kualitas itu lebih penting dari kuantitas? Tentu jawabannya benar, tetapi kalau saya juga tidak salah HMI itu mengutamakan kualitas dan juga tidak mengesampingkan kuantitas. Jadi antara kualitas dan kuantitas dia saling berkaitan satu sama lain dan bahkan kembar tak terpisahkan.

Bukankah kita juga pernah mendengar pribahasa yang mengatakan "Lebih baik punya 10 kader seperti singa dari pada 100 kader seperti domba"? Artinya ialah untuk memasuki dunia berHMI itu, membutuhkan vitamin yang banyak, pondasi yang kokoh serta tubuh yang sanggup bergerak kesana kemari.

Karena bicara berHMI bukanlah bicara formalitas semata, tapi lebih dari itu. Sehingga kader yang bertahan di HMI dan selalu aktif di dalamnya ia "wajib" disebut sebagai kader pemenang, tapi bukan pecundang. Jadi dari itu semua, kesimpulan sederhana yang ingin saya sampaikan ialah, bahwa perekrutan calon anggota HMI dengan cara menampilkan foto para tokoh sudah kurang relevan lagi untuk digunakan, karena akan menghasilkan "kekecewaan" yang berkepanjangan.

Biarkan mereka tahu dengan sendirinya siapa-siapa para tokoh HMI yang tersebar di Republik ini, mulai dari akademisi, praktisi, ataupun bidang profesi lainnya. Justru yang paling penting ialah dengan cara menunjukkan kualitas organisasi yang bersangkutan dan karya para kadernya, itu jauh lebih terhormat dibandingkan dengan cara apapun.

Karena kader yang berkualitas, mencerminkan organisasi yang berkualitas pula. Demikian catatan singkat dari saya, ini tak lain untuk memberikan motivasi kepada teman-teman semuanya. Tidak ada unsur negatif sedikitpun didalamnya. Saya tutup dengan kata "Terimakasih itu satu hal, dan rasa terimakasih itu hal lain"

Penulis : Alungsyah (Mantan ketua Umum HMI Cabang Malang Komisariat Hukum UMM).