Kembalikan Santunnya Tutur Kata Orang Bima (Kembali Eli Ma Alu )
Cari Berita

Advertisement

Kembalikan Santunnya Tutur Kata Orang Bima (Kembali Eli Ma Alu )

Senin, 18 September 2017

Ilustrasi (foto : Sugiono Geger's Blog - WordPress.com)
Jika kita mendengarkan percakapan antara orangtua kita di Bima, maka tentunya kita akan dapat menemukan betapa halus dan santunnya bahasa yang mereka gunakan.

Namun bagaimana jika kita mengingat kembali percakapan antara pribadi kita dengan rekan sebaya dan atau orang-orang yang lebih tua? Apakah masih sama sopannya? Dan, apakah kita sudah siap untuk hari esok ketika kita beranjak lebih dewasa dan harus mewariskan bahasa kita kepada anak cucu kita? Jika sudah siap, maka satu pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan adalah, sudah sejauh mana anda mengenal bahasa anda sendiri?

“Kalau di daerah ku itu, tiap daerah kecilnya juga ada dialeknya sendiri-sendiri. Bahasanya juga ada tingkatannya. Ada yang halus banget, halus, sedang, dan kasar.” Ucap salah seorang kenalan saya ketika kami mulai berbagi cerita tentang daerah tercinta.

Saya hanya bisa menyimak dengan antusias, hingga kemudian dia bertanya kepada saya tentang bahasa Bima. Apa di sana ada dialek juga dan apa ada tingkatannya juga? Saya pun menjawab.

“Bima itu bahasanya sangat kaya, bahkan setiap desa pun punya dialek yang berbeda-beda. Bahkan, teman-teman ku ketika SMP dulu pernah hampir berkelahi hanya karena perbedaan dialek tersebut. Tentang nama seekor serangga yang rupanya punya banyak nama yang berbeda di tiap-tiap desa. Yang satunya menyebut A dan yang satunya ngotot harus B, terjadilah pertengkaran siapa yang sesuai dengan bahasa induknya. Namun untuk tingkatannya sendiri, aku tidak tahu. Yang aku tahu, yang jelas ada bahasa halus dan kasarnya. Karena itu sudah merupakan fitrah bagi setiap bahasa.” Ucap saya dan bercerita panjang lebar. jawab saya, malu juga rasanya menjawab seperti itu di bagian akhir. Seakan saya tak pernah mengenal daerah saya sendiri.

Miris memang, namun itu kenyataannya. Dan benar saja, sahabat baru saya itu pun mengungkapkan rasa herannya. Kok bisa saya tidak tahu. Itu yang mereka herankan. Dan entah kenapa, saya justru semakin menjadi meluapkan kisah-kisah miris tentang pergolakan budaya di daerah saya. Tentang teman-teman saya ketika SMA dahulu yang bahasa kesehariannya terdiri dari campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Bima. Itu pun masih lebih banyak di-dominasi oleh bahasa gaul anak muda jaman sekarang. Hingga beberapa waktu kami mendapati mereka tidak mengerti beberapa kosakata khusus yang kami ucapkan. Jangankan beberapa kosakata khusus, kosakata sederhana pun seringkali mereka lupakan.

Terkadang itu menjadi tombak bagi kami untuk menghakimi betapa terpuruknya mereka. Padahal pada kenyataannya, kami sendiri pun tak lepas dari jeratan yang sama dengan mereka. Mendengar cerita saya, sahabat baru saya itu pun kembali menyahut. Sebuah sahutan yang sangat mengejutkan sekaligus menggelitik atau mungkin lebih tepatnya menampar bagi saya.

“Loh, memangnya kalian nggak ada pelajaran bahasa daerah po?” dan berakhirlah saya dengan longo-an tak berdaya yang saya miliki. Rupanya di daerah kawan-kawan saya itu semuanya diwajibkan belajar bahasa daerah.

Berdasarkan pengakuan mereka kepada saya, mereka belajar bahasa daerah mereka sejak SD hingga SMA. Mereka bahkan menghakimi betapa buruknya pemerintah daerah kita karena lalai dalam hal ini. Pemerintah daerah mereka sudah membuat program untuk memasukkan Mulok Bahasa Daerah ke dalam Kurikulum 2013. Ini jelas berdasarkan hak otonomi daerah masing-masing. Setidaknya yang saya tahu sudah ada dua daerah yang menerapkannya, yakni daerah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Akhirnya, setelah berbincang panjang lebar dengannya, saya pun mulai tertarik untuk mengenal bahasa daerah saya lebih dalam lagi. Setidaknya setiap kali ada pertanyaan tentang bahasa daerah saya, saya akan selangkah lebih dekat dengan bahasa daerah saya. Contohnya kali ini saya sudah tahu bahwa bahasa Bima terdiri dari 3 tingkat bahasa berdasarkan Status Sosial. Misalnya kata Tidur dalam bahasa Bima kasarnya disebut Maba Timba, sementara dalam tingkatan sedangnya disebut Maru dan dalam bahasa halusnya, yakni bahasa yang sering digunakan oleh kaum bangsawan kerajaan atau yang berkediaman di istana disebut Otu.

Jadi, mari kita kembalikan Bahasa Bima yang lembut nan permai dengan membaca, menulis dan atau membagikan tulisan ini kepada khalayak. Semoga saja orangtua kita di kampung halaman dapat menerimanya dan segera memutuskan langkah yang tepat untuk menyelamatkan Nggahi Mbojo kita tercinta. Kambali Eli Ma Alu!
Lestarikan Bahasa Daerah!
Cintai Bahasa Indonesia!
Kuasai Bahasa Asing!

Penulis : Alif Mahfud (peserta lomba menulis artikel Bima dan Dompu tempoe doeloe).