Inspiratif! Si Miskin Michael Jordan, Penjual Pakaian Bekas Seharga 1.200 Dollar
Cari Berita

Advertisement

Inspiratif! Si Miskin Michael Jordan, Penjual Pakaian Bekas Seharga 1.200 Dollar

Selasa, 19 September 2017

Ilustrasi (Foto : FITRIA KURNIAWAN (ABU FAHD) - WordPress.com).
Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara. Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.

Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas seharga 1 dollar untuk dijual dengan harga 2 dollar.

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering.

Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu 2 dollar Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian.

Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, dan Jordan diminta untuk menjual dengan harga 20 dollar.

Jordan merasa ini tidak mungkin tapi bapaknya memintanya untuk mencoba. Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya.

Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dollar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.

Setibanya di rumah, ayahnya mememberikan pakaian bekas untuk dijual dengan harga 200 dollar. Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun.

Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya.

Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu. Kemudian Jordan berusaha melelang pakaian tersebut dan laku seharga 1.200 dollar. 

Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!” Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya.

Sebelum tertidur ayahnya menanyakan apa yang dapat dipahami dari pengalaman menjual pakaian bekas. Jordan menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.” Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup. Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, apalagi manusia.

Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Dia mengasah potensinya hingga akhirnya dia berhasil menjadi seorang pemain basket terhebat di dunia ini dan menjadi salah seorang atlet terkaya.

Tuhan memberikan kepada kita masing-masing potensi berupa talenta. Ada yang tuhan berikan lima, dua dan satu talenta. Tidak perlu iri atau memandabg remeh potensi orang lain. Asah dan kembangkan potensimu.

Penulis : Ma'ruf