Indonesia Negeri Sunah
Cari Berita

Advertisement

Indonesia Negeri Sunah

Jumat, 29 September 2017

Presiden Joko Widodo ketika akan bersalaman dengan masyarakat pada moment Idul Fitri 2016 (Foto : Okezone News)
Hanya di Indoenesia orang berebut 'urunan' bangun masjid. Membentuk panitia. Proposal dan pengumuman lewat banner dimana-mana. Ada yang bantu uang, semen, bata merah, kayu, pasir hingga makanan dan tenaga untuk kerja bakti.

Hanya di Indonesia beragam halaqah dibuat. Pengajian Selosoan digelar, Pengajian pendak jemuah legi, pengajian pendhak selapan, Ahad pon, Rebu Legi, Yasinan, Sepasaran dan Ahad pagi.

Hanya di Indoenesia puluhan ribu orang hadir pada Majelis Maulid Rasul, rela antre duduk berjam-jam membaca shalawat cinta. Berdoa bersama para habaib dan para salihin. Berendah hati berbaur bersama. Naik angkot dari jarak yang sangat jauh.

Hanya di Indoenesia ramadhan begitu indah. Ada ta'jil. Buka bersama. Megengan. Nuzulul Quran, Malam selikuran. Apem dan tumpeng. Khataman setelah usai baca 30 juz pada malam 29.

Hanya di Indoenesia Hari Raya begitu ramai. Pakaian baru. Galak gampil. Halal bi halal. Mbruwah. Membuat kue dan membakar petasan dan kembang api. Tempat hiburan penuh pengunjung. Jalanan sesak karena macet. Takbir keliling, bedhug dan obor.

Hanya di Indoenesia hari raya kurban begitu meriah. Para jamaah patungan membeli kambing dan sapi, membentuk panitia, dimasak dan di makan bareng. Orang tua dan anak-anak bahu membahu memotong dan membagi hewan kurban. 

Hanya di Indoenesia semua peristiwa diperingati. Hijrah nabi. Nuzulul Quran. Lailatul qadar. Isra mi'radz hingga hari kelahiran atau Maulid. Para uwak haji dikarak ramai. Semua dilakukan sebagai tanda cinta dan syukur. Kami hanya mencintai Islam dan Nabi dengan cara sederhana. Itu saja.

Islam lebih indah dari negeri asalnya. Meski kita terpisah oleh waktu dan jarak yang sangat jauh. Kita juga tak paham dengan bahasa dan adatnya. Tapi kita beriman meski hanya mendengar nama. 

Kita tidak mengenal Muhammad saw : seperti penduduk Tsaqif yang mendustakan, tapi kita mencintainya dan beriman tanpa bertanya. Kita tinggalkan adat dan kebiasaan. Mengimani kitabnya, berikut semua ajarannya semampu yang kita bisa.

Mungkin tak seharusnya ditagih sama dengan negeri asalnya. Kita terpisah jarak dan waktu bahkan bahasa. Berbeda sedikit itu biasa. Insya Allah nabi kita ridha dan maklum. Ini hanya cara menunjukkan cinta dari sebagian umat yang terpisah jauh. Indoenesia negeri sunah. Semoga dimaafkan.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar