(cerpen) Senyum Manis Berjuta Cinta
Cari Berita

Advertisement

(cerpen) Senyum Manis Berjuta Cinta

Sabtu, 30 September 2017

Foto : Penulis
Ia tersenyum lagi, lagi dan lagi, jilbab merah maron yang ia kenakan di malam itu masih menyisahkan kekaguman. Sang rembulan memancarkan sinarnya, bintang-bintang kecil berkelap-kelip seolah-olah mereka memberikan sambutan hangat pada ia. Sebut saja gadis berkerudung merah maron. Senyumnya mampu mengalihkan puluhan pasang mata malam itu. Tidak ingin sedetikpun melewatkan senyumnya, karena senyum itu mampu memberikan berjuta cinta.

Ia hanya bisa tersenyum ketika di sapa, ingin tahu nama nya siapa, dan ingin tahu kenapa ia hanya tersenyum ketika di sapa. Tapi, mata indahnya berusaha menyembunyikan sesuatu lewat senyumnya. Ia dan ia yang mampu mengalihkan dan menjawab semua yang menjadi pencarianku selama ini. Pencarian itu masih berlanjut, ia masih misterius, susah ditebak. Tapi, keyakinan itu masih menancap dalam hati bahwa ia adalah perempuan yang luar biasa.

Lagu romantis, ataukah kata-kata puitis yang harus di rangkai untuk menggambarkan ia?

Tanggal 7-7-2017, serba 7. Tanggal, bulan, dan tahun cantik, secantik ia yang memakai kerudung merah maron, semanis senyumnya saat di tatap dari kejauhan.

Memang tidak ada yang di sengaja sebelumnya, lagi dan lagi ia muncul dengan mengenakan kerudung yang berbeda, lebih anggun dan menawan lagi. Warnanya putih, putih yang melambangkan kesucian. Tiba-tiba muncul kata Suci dalam benak dia, dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah nama gadis itu Suci?

Tepatnya jam 07 : 00 wib di keramaian orang, ia duduk menyendiri di kursi Panjang yang terbuat dari besi, kursi yang di taruh sepanjang taman.

Mawar-mawar nan indah yang ia bawa di keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, keranjang itu warnanya merah muda dan ditaruh mawar-mawar yang berbagai macam warnanya. Setiap kedipan-kedipan mata selalu terlintas bayangannya, selalu teringat wajahnya, dan selalu muncul banyangan mahkota indah yang ia kenakan malam itu, mahkota yang menutupi auratnya, mahkota yang membuat berbagai pertanyaan muncul “kerudung merah maron”.

Hari ini, tepatnya 07 : 17 wib menit ingin dia menghampirinya, tapi langkah kaki dia terasa kaku, seolah-olah ada yang menjanggalnya. Apakah memang tidak ada sedikit pun keberanian untuk menyapa? Atau jangan-jangan itu hanyalah kekaguman yang sifatnya sesaat karena mengikuti nafsu birahi?.

Tiga kali dia tarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan-lahan. Dia berusaha hadir di hadapannya, dia berusaha menghilangkan rasa takutnya. Berbagai cara dia lakukan. Tapi, itu tidak ada yang berhasil.

Waktu menunjukkan pukul 09:00 wib. Masih melihat ia di kejauhan, masih berusaha memberanikan diri untuk menyapa. Tiba-tba, ajing kecil nan cantik dengan bulu yang lebat terlepas dari genggaman pemiliknya, dia secara tiba-tiba lari ketakutan kearah gadis berkerudung merah maron itu. Jaraknya hanya satu meter antara dia dan ia.

Dengan suara nafas yang masih ngos-ngosan, detak jatung yang sudah tidak seirama lagi, keringat yang mengalir berceceran membasahi wajah, membuat dia harus mandi keringat pagi itu. Tidak disangka-sangka oleh dia, gadis berkerudung merah maron itu menawarkan sapu tangan warna merah mudanya ke dia, sapu tangan yang bercorak bunga melati yang bertuliskan Suci Rahadjeng, dia lihat baik-baik tulisan itu, sampai-sampai keringat diwajahnya kering sendiri tanpa dia gunakan sapu tangan gadis berkerudung merah maron itu.

Suci Rahadjeng yang bercorak rapi di sapu tangan itu, membuat dia kaget. Dia kembalikan sapu tangan merah muda itu dengan tangan yang berkeringat, dia bertanya dengan suara yang terbata-bata dan tubuhnya bergemetaran, dia hanya ingin memastikan nama gadis berkerudung merah maron itu apakah Suci Rahadjeng?. Dengan suara lembutnya, ia menjawab “iya” saya Suci Rahadjeng.

Matahari pagi itu mulai memancarkan sinarnya, alunan-alunan musik dan diiringi dengan melodi-melodi romantis pagi yang menjelang siang itu membuat dia dan ia tiba-tiba akrab karena sapu tangan merah muda. Berjam-jam dia dan ia berbicang-bincang bercanda gurau.

Pagi menjelang siang itu terasa romantis karena gadis berkerudung merah maron itu menjadi teman berbagi. Seakan-akan pagi menjalang siang itu dunia milik dia dan ia.

Penulis : Izul Islamudin