Budaya Tari dan Atraksi Seni Tradisional Mbojo
Cari Berita

Advertisement

Budaya Tari dan Atraksi Seni Tradisional Mbojo

Rabu, 20 September 2017

Aksi Dua pendekar sedang bertarung dalam budaya gantao.
Kota Bima adalah kota kecil yang berada di pulau Sumbawa bagian timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Bima atau sering disebut Mbojo merupakan daerah yang mempunyai banyak hal–hal unik yang dapat menarik perhatian diantaranya yaitu keindahan alamnya, adat-istiadat, suku-suku, makanan dan minuman khasnya dan tidak lupa pula dengan keberagaman budaya atau kebiasaan yang sudah ada sejak jaman dahulu.

Salah satu kebudayaan yang masih eksis hingga sekarang adalah tari tradisional baik yang lahir dari istana maupun di luar istana. Perkembangan seni tari dan atraksi seni budaya tradisional di Mbojo yaitu ketika zaman keemasan kesultanan Bima terutama pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (sultan Bima ke-2) yang memerintah antara tahun 1640-682 M.

Pada saat itu seni tari dan atraksi seni tradisional merupakan salah satu cabang seni yang sangat populer sehingga perkembangannya yang sangat pesat itu mendapat perhatian dari pemerintah kesultanan dan kala itu Istana Bima (Asi Mbojo) tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan tetapi juga tempat pengembangan seni dan budaya tradisional.

Seni tari dan atraksi seni yang masih eksis di kalangan masyarakat hingga sekarang antara lain :

1. Tari Wura Bongi Monca
Tarian ini adalah tarian selamat datang. Bongi monca adalah beras kuning. Jadi tarian ini adalah tarian menabur beras kepada rombongan tamu yang datang berkunjung.Tarian ini biasanya digelar pada acara penyambutan tamu baik secara formal maupun informal. Tarian ini dimainkan oleh 4 sampai 6 remaja putri dalam alunan gerakan yang lemah lembut disertai senyuman sambil menabur beras kuning kearah tamu. Karena masyarakat Bima beranggapan bahwa tamu adalah raja dan dapat membawa rezeki bagi mereka dan Negeri.

2. Tari Lenggo
Awalanya tarian ini diciptakan untuk upacara adat HANTA UA PUA dan dipertunjukkan pertama kali di OI ULE (pantai ule) dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Tarian ini awalanya dimainkan oleh  orang remaja pria akan tetapi pada masa Sultan Abdul Khair Sirajuddin menciptakan lenggo mbojo yang diperankan oleh 4 orang remaja perempuan. Tarian ini dipertunjukkan pada saat upacara HANTA UA PUA terutama saat rombongan penghulu memeasuki pelataran istana.

3. Hadrah Rebana
Hadrah rebana merupkan jenis atraksi yang telah mendapat pengaruh ajaran Islam. Syair lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu bahasa Arab yang biasanya mengandung pesan-pesan rohani. Tarian ini berbekal 3 buah rebana dan 6 sampai 12 penari. Tarian ini digelar pada acara WA’A CO’I (antar mahar), sunatan maupun khataman Al-Qur’an.

4. Atrasi Gantao
Jenis tari ini berasal dari Sulawesi selatan dengan nama asli KUNTAO. Namun di Bima diberi nama Gantao karena saat itu kesultanan Bima dengan Gowa dan Makassar memiliki hubungan yang sangat erat. Atraksi ini dikategorikan dalam seni bela diri (silat) dan gerakan selalu diiringi oleh musik tradisonal Bima. Pada zaman dahulu Atraksi Gantao selalu digelar di istana sebagai ajang pertemuan para pendekar dari seluruh pelosok, dan sekarang atrkasi digelar pada acara sunatan maupun perkawinan.

Agar budaya mbojo yang turun menurun sejak zaman dahulu tidak punah. Marilah kita bersama sama melesarikan dan menjaga budaya seni tari dan atraksi seni tradisional mbojo baik pemerintah dan masyarakat yang saling berkaitan. “KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI”.

Penulis : Fatku Rahmawati