Budaya Rimpu Tidak Boleh Hilang
Cari Berita

Advertisement

Budaya Rimpu Tidak Boleh Hilang

Jumat, 22 September 2017

Seorang nenek sedang mengenakan pakaian Rimpu (foto : aneka ragam indonesia - blogger).
Rimpu adalah salah satu budaya Bima dalam kategori kebusanaan yang dipakai oleh perempuan Bima untuk menutup auratnya. Rimpu dibagi menjadi dua macam, rimpu mpida dan rimpu colo. Rimpu mpida biasanya dipakai oleh perempuan Bima yang belum menikah atau yang masih gadis, sedangkan rimpu colo dipakai oleh perempuan Bima yang telah menikah.

Ada perbedaan dalam pemakaian rimpu mpida dengan rimpu colo, bentuk pemakaian rimpu mpida yaitu menutup seluruh badan dan wajah kecuali mata dan telapak tangan, sedangkan pemakaian rimpu colo lebih mudah yaitu hanya menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Rimpu mulai masuk ke Bima-Dompu seiring masuknya islam pada hari kamis tanggal 5 Juli 1640 M, atau bertepatan pada tanggal 15 Rabiul Awal 1050 H. Karena belum berkembangnya teknologi di Bima pada zaman dulu, sehingga pemakaian rimpu yaitu dengan menggunakan dua lapis sarung (dua ndo’o tembe), dan sarung yang digunakan adalah sarung khas dari daerah Bima yang dikenal dengan “Tembe Nggoli”.

Budaya rimpu menjelaskan identitas perempuan Bima yang sangat menghormati dan menghargai masuknya ajaran islam di dana Maja Labo Dahu ini. Pada zaman dulu, saat Islam sudah berkembang di tanah Bima, kaum perempuan jika ingin keluar rumah harus mengenakan rimpu, karena jika tidak maka akan dianggap sebagai aib. Begitulah masyarakat Bima sangat menghormati dan menjunjung tinggi perempuan. Namun sangat disayangkan, seiring berkembangnya zaman, IPTEK menjadi semakin maju, dan budaya-budaya barat mulai berkembang, sehingga masyarakat Bima mulai melupakan budaya rimpu bahkan budaya tersebut hampir hilang.

Budaya adalah suatu kekayaan mutlak yang dimiliki oleh setiap daerah yang akan diwariskan kepada generasi muda yang akan datang. Oleh karena itu, pemerintah setempat khususnya pemerintah Kota Bima dan Kabupaten Bima harus mensosialisasikan budaya rimpu ersebut, agar para generasi muda bisa mengetahui dan melestarikan budaya rimpu ini.

Untuk saat ini, pemerintah Kota Bima dan Kabupaten Bima, sedang berupaya untuk melestarikan budaya rimpu yang merupakan salah satu kekayaan budaya dari Tanah Bima (Dana Mbojo), yaitu dengan cara menganjurkan kepada setiap peserta pawai budaya untuk memakai rimpu saat memperingati Hari Ulang Tahun Kota Bima maupun saat memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Bima.

Semoga kedepannya pemerintah Kota Bima maupun Kabupaten Bima bisa berupaya lebih besar lagi dalam melestarikan kebudayaan Bima terutama budaya rimpu agar budaya tersebut tidak hilang.

Penulis : Wildan Arafah (Peserta lomba menulis artikel tentang Bima dan Dompu tempoe doeloe).