Adat Istiadat Pernikahan Orang Bima
Cari Berita

Advertisement

Adat Istiadat Pernikahan Orang Bima

Jumat, 22 September 2017

Tradisi peta kapanca masyarakat Bima (foto : ronamasa - blogger)
Pernikahan atau nikah ra nako dalam tradisi mbojo memiliki aturan. Aturan itu cukup ketat sehingga satu kesalahan bisa membuat rencana pernikahan (nika) menjadi tertunda bahkan gagal. Aturan yang ketat itu menjadi bermakna karena di taati oleh anggota masyarakat. Kini aturan tersebut sedikit demi sedikit dilupakan. Misalnya ngge’e nuru atau tinggal bersama calon mertua. Berikut tata cara dan urutan prosesi pernikahan adat bima :

1. Panati atau Dou Sodi
Dalam tradisi bima, panati (melamar) perempuan, menjadi pintu gerbang menuju ke jenjang pernikahan. Panati diawali dengan datangnya utusan pihak laki-laki pada orangtua perempuan. Tujuannya untuk menanyakan apakah sang gadis sudah memiliki calon suami atau belum. Bila perempuan berstatus bebas maka si pria melakukan proses WI’I NGGAHI, setelah itu diutuslah orang untuk melakukan pinangan. Orang yang diutus untuk melakukan pinangan disebut OMPU PANATI. Apabila pinangan diterima resmilah kedua remaja tersebut dalam ikatan pertunangan. Jika kedua remaja itu sudah mengikat janji biasanya perempuan meminta kepada pria untuk segera dilamar supaya menghindari fitnah dan hal-hal tidak terpuji.

2. Wa'a Co'i (mengantar mahar/mas kawin)
Upacara pengantaran mahar biasanya dihadiri oleh seluruh anggota masyarakat sekitar dan digelar dengan meriah. Seperti ada kelompok penabuh hadra yang mengiringi sang pria dan keluarga menuju rumah orang tua perempuan. Banyak barang dan besarnya nilai mahar tergantung hasil mufakat antara kedua keluarga. Pada umumnya mahar berupa perhiasan, rumah, perabotan rumah tangga, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan tidur.

3. Teka Ra Ne'e (Hajatan Keluarga)
Teka ra ne’e merupakan kebiasaan dikalangan dou mbojo. Teka ra ne’e merupakan pemberian bantuan pada keluarga yang melaksanakan hajatan. Bila upacara teka ra ne’e dimulai maka berlomba-lomba masyarakat (umumnya perempuan) datang ke rumah untuk memberi beras, gula, dan uang, dan lain-lain.

4. Akad Nikah
Akad nikah merupakan puncak acara. Sebelum melaksanakan akad nikah, malamnya dilakukan acara peta kapanca (menempelkan ro’o kapanca pada jari tangan dan kaki pengantin) yang sedang di pelaminan dengan berpakaian adat dan dirias.

Pada acara akad nikah ini masyarakat diundang untuk menyaksikan dan memberi do’a restu. Selesai melakukan akad nikah maka resmilah mereka menjadi suami-istri yang sah. Pernikahan adalah sunah rasul yang harus kita ikuti atau jalankan serta menjunjung tinggi. Untuk menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam, seperti berzina. Adat istiadat proses pernikahan di dana mbojo sudah banyak hal yang ditinggalkan seperti PATA ANGI.

Zaman dulu harus dilamar (PANATI) oleh orangtua, setelah itu perempuan dan laki-laki bisa bertemu. Kalau proses pernikahan zaman sekarang muda-mudi bertemu atau berpacaran dulu baru dilamar oleh orang tua laki-laki, dan kapanca sudah tidak menjadi aturan wajib.

Selain itu pada acara kapanca ada kegiatan yang pengantin wanita diangkat pakai tandu juga mulai dilupakan oleh masyarakat Bima.

Penulis : Muhajiriansyah (peserta lomba menulis artikel Bima dan Dompu tempoe doeloe).