Ulama Impor : Ujaran Kelompok Tuna-Visi Yang Risau
Cari Berita

Advertisement

Ulama Impor : Ujaran Kelompok Tuna-Visi Yang Risau

Rabu, 16 Agustus 2017

Foto : Penulis
Ada hal menarik yang diwacanakan untuk menolak Full Day School. Dikawatirkan murid menjadi rusak akhlaq, radikal, intolerant, sampai pada tutupnya madrasah diniyah. Karena penggagas Full Day School berpaham wahaby. Ulamanya di impor dari Arab.

Wacana menarik meski sedikit lucu. Saya paham wacana itu lahir dari kerisaun akut atau boleh jadi karena hilang akal atau tuna-visi. Maaf saya menyebutnya tuna-visi karena memang demikian adanya: tanpa penjelasan.

Full Day School adalah soal kebijakan mentri pendidikan. Yang diberi kewenangan membuat kebijakan, mengelola, mengembangkan dan membuat siasah.

Lantas apa relevansinya Full Day School dengan ulama impor. Kebayang tidak pernyataan macam apa itu ? Apalagi keluar dari lisan seorang ulama panutan umat.

Dan maaf saya juga sedikit gagu menjelaskan. Apa perlu menjelaskan sesuatu yang sudah benderang. Islam agama yang kita peluk berasal dari Arab, pun dengan Nasrani dan Yahudi juga di impor dari Jazirah Arab. Hindhu diimpor dari India. Budha kita datangkan dari Tibet. Zoroaster kita impor dari Parsi. Kon Fusius kita impor dari China. Bahkan PKI juga kita impor dari Rusia atau China setelah dimodifikasi.

Bukankah Sunan Ngampel, Sunan Giri, Syaikh Jumadi Kubra, Syaikh Abdul Qadir Jilani yang kita keramatkan itu juga ulama impor.

Semua agama yang dipeluk adalah impor dari negeri seberang. Termasuk berbagai paham ideologi semisal kolonialis, imperialis, hedonis bahkan LGBT kita juga ngimpor.

Lantas apa urgensinya membahas yang beginian.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar