Positive Jurnalisme : Setiap Orang Editor Bagi Dirinya
Cari Berita

Advertisement

Positive Jurnalisme : Setiap Orang Editor Bagi Dirinya

Senin, 14 Agustus 2017

Foto : Prnulis
Fitnah datang ke rumah-rumah seperti kepingan malam. Demikian nabi saw pernah memprediksi kondisi dunia menjelang kiamat. Fitnah adalah berita tidak benar. Lebih keji dari membunuh. Disebar untuk meracuni. Membentuk opini buruk. Bahkan lebih jauh dapat membentuk karakter seorang.

Umar Ibnul Khattab bermimpi tentang pintu besar yang di dobrak jatuh dan patah. Mimpi tentang terbukanya fitnah. Diawali dengan syahidnya sang khalifah di pucuk pisau belati, Abu Luk Luk. Umar Al Farok roboh disaat Islam sedang dalam puncak pertumbuhan. Berbagai ekspedisi tengah dilakukan. Dan isu luas menyebar.

Semua kita adalah jurnalis. Dan kita menjadi reporter, editor bahkan mcr bagi diri kita sendiri. Kita yang menentukan, memilih dan menyensor berita yang akan kita publikasikan. Apakah gambar wajah atau pantat. Apakah jenis makanan atau pakaian. Apakah sekedar canda atau caci maki. Apakah karya sendiri atau sekedar kopi dan share. Semua bergantung kita.

Orang bisa tahu jurnalis macam apa kita. Apakah: oposan yang selalu melawan. Mitra yang selalu memberi solusi dan jalan tengah. Atau hanya sekedar tukang gosip penyebar hoax.

Kita hidup pada era dimana budaya literasi sangat rendah. Orang lebih suka baca status ketimbang buku. Dari status itulah pengetahuan diperoleh. Opini dibentuk. Dan karakter di dapat.

Kita adalah editor bagi diri kita sendiri. Konten berita yang kita sebar itulah jawaban. Tengok kembali semua status dan lihat, jurnalis macam apa kita.

Jadilah jurnalis yang mem-publish kebaikan dan berita positif. Bukan sebar hoax, fitnah dan kebencian.


Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar