Pendidikan Jahat - Evil Education
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Jahat - Evil Education

Senin, 14 Agustus 2017

Foto : Penulis (Memakai Peci Hitam) 
Setidaknya kita pernah disuguhi tiga kejadian yang membuat merinding bulu kuduk. Radikalisasi dan teror justru hadir dan diajarkan ditengah komunitas yang seharusnya melindungi dan memberi rasa aman.

Sebuah sekolah dan madrasah Al Quran di Jakarta mengajarkan praktik demo dengan yel-yel mengerikan: "Bunuh ,, bunuh ,, bunuh si Ahok .. bunuh si Ahok sekarang juga. Bunuh si kafer Ahok".

Berikutnya masih di Jakarta pada sebuah masjid yang mengintimidasi jamaahnya. Yang memilih si kafer sebagai pemimpin, tidak akan di doakan apalagi di shalati di saat mati.

Terakhir di Probolinggo Jawa timur. Di sebuah kota tapal kuda. Dimana pesantren yang mengaku sebagai penjaga ahlu sunah wal jamaah kukuh berdiri. Mengusung yel-yel yang sama.

Kali ini Mendiknas Muhadjir Effendy menjadi sasaran amuk dan intimidasi. Hanya soal tak bersetuju dengan FDS. "Bunuh .. bunuh .. bunuh Menterinya .... bunuh Menterinya sekarang juga". Anak-anak, hanya anak-anak semoga hanya guyon. Tapi siapa yang mengajari ???

Hasilnya di kampung muara Bekasi satu jamaah yang diduga maling ampli butut di sebuah rumah ibadat dibakar dan dibunuh. Dan entah siapa lagi berikutnya. Saya miris. Kita mewariskan apa pada mereka.

Itukah pengajaran yang selama ini kita banggakan. Itukah hasil riset para guru besar yang menghabiskan waktu dan uang tak sedikit. Itukah hasil dari istgotsah dan bacaan shalawat cinta pada Kanjeng Nabi yang dihadiri ulama-ulama keramat yang dibanggakan. Hanya itukah. apa yang kita banggakan sekarang ?

Kalau sudah begitu, apa pentingnya nilai 10. Apa artinya summa cumlaude. Apa artinya majelis dzikir dan Maulid. Pendidikan kita melahirkan generasi penista. Masyarakat sakit. Pendidikan Multi-kultural ternyata non sens. Pluralitas itu hanya gombal. Mengklaim paling Bhinneka, praktiknya justru yang paling anarkhis. Hari ini kita bisa saksikan, siapa sebenarnya yang sedang mengajari anak-anaknya dengan cara meneror. Pada perkumpulan mana atau ormas apa Radikalisasi itu ditumbuhkan. Pengajaran kita. Baik yang dilakukan di sekolah, pesantren, tausiyah bahkan Khutbah (saya lebih suka menyebut pengajaran ketimbang pendidikan). Telah meracuni pikiran, perasaan siswa atau jamaah dengan kebencian. Permusuhan dan merasa paling benar sendiri. Keadaban dan kesantunan hilang tak berkesan. Mengajar tanpa hati. Saya menyebutnya pengajaran jahat.

Pengajaran dan semua tausiyah hanya menghasilkan generasi tuna susila, tuna adab. Hilang kesantunan dan kering humanitasnya. Materi menjadi berhala. Metode menjadi taghuts paling mengerikan. Lulus menjadi tujuan utama. Majelis kehilangan kesucian. Pengajar sedang mengagumi dirinya sendiri. Yang dipikir hanya rpp dan upah bulanan. Lantas apa yang kita wariskan. Demikian "Pengajaran" selesai dengan ringkas.

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar