Nasionalisme Dalam Bingkai Persatuan Kebhinekaan
Cari Berita

Advertisement

Nasionalisme Dalam Bingkai Persatuan Kebhinekaan

Rabu, 23 Agustus 2017

Foto : Penulis
Persatuan adalah tonggak kemerdekaan, persatuan adalah dimensi kekuatan nasional. Dari persatuan lah bangsa Indonesia dapat survive dari ancaman global. Sila ketiga sangat jelas mengelaborasi nilai integral sebagai philosophy grondslag yang krusial. Secara letak geografis Indonesia terdiri dari integrasi pulau pulau dari Sabang sampai Merauke yang berjejeran menjadi satu kesatuan yang utuh.

Kebhinnekaan ialah jati diri bangsa sebagai penghayatan dari nilai nilai luhur tiap daerah diseluruh pelosok bangsa. Indonesia akan menjadi negara besar dan maju jika persatuan akan tetap terpelihara, itulah makna substansial dari Bhinneka Tunggal Ika. Kendati demikian, dewasa ini persatuan dan kesatuan selalu berada pada poros ancaman. Gerakan-gerakan separatis semakin gencar dan masif, radikalisme menjadi ancaman serius dalam mewarnai pergolakan politik nasional.

Ikrar persatuan para the faunding fathers dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengalami distorsi yang serius akibat gerakan eksesif sebagai manifestasi antipatif terhadap suatu kebijakan penyelenggara Negara. Kurang lebih begini ilustrasinya "Bila sakit kepala, bukan berarti kepala harus di potong dari tubuh untuk menyembuhkannya, namun obatilah kepalanya". Slogan NKRI harga mati, mungkin hanya bermakna semantik, Visualisasi rasa Nasionalisme sekedar meramaikan hari kemerdekaan.

Menjelang hari kemerdekaan, ritualitas memasang peraga penyambutan Hut Kemerdekaan menjadi tradisi tahunan, setelah seminggu berjalan, cat cat tembok dan pagar mulai kotor dan kusam, bendera merah putih berkibar layu terlilit tali layangan, sesekali angin meniup.

Tidak ada yang menghiraukannya, karena hari nasionalisme telah berlangsung seminggu yang lalu. Indoktrinasi Nasionalisme menjadi Pekerjaan Rumah yang urgen untuk disegerakan. Memulai dari bangku kanak kanak hingga pada perguruan tinggi. Menumbuhkan rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme di kalangan para generasi menjadi pekerjaan bersama, antara orang tua masyarakat, instansi pendidikan dan pemerintah. Keempat elemen tersebut, dapat menjadi partner dalam menanam bibit nasionalisme pada generasi-generasi penerus bangsa.

pertama, Orang tua berperan dalam memberikan basic perasaan bangga terhadap bangsa, dan rasa cinta terhadap NKRI. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti mendeskripsikan sejarah panjang perjuangan bangsa untuk merdeka.

Kedua, Masyarakat juga berperan penting dalam mengawasi pergaulan para generasi, bukan bersikap acuh dan berpikir kejam mereka bukan bagian dari kolega.

Ketiga, Instansi pendidikan memegang peran yang sangat penting, sebagai tempat bernaungnya para intelek intelek muda, pelajaran yang berimbas pada perasaan cinta tanah air ialah keharusan dalam mempertahankan hasrat persatuan dan perasaan nasionalis . Dunia pendidikan harus berkonversi sebagai usaha untuk melahirkan para generasi yang berintegritas. Tidak menjadi ladang mitos berkembangnya rumus rumus asing. Maka, pendidikan yang berbasis pada nilai lokal adalah jawabannya.

keempat, Pemerintah diwajibkan untuk memberikan ruang akses untuk para generasi muda untuk berkembang dan mengembangkan diri dan memberikan proteksi terhadap ancaman paham disintegrasi. Hubungan dekat antara pemuda dan pemerintah akan menciptakan perasaan saling memiliki (bukan mengintervensi).

Jika keempat hal tersebut berjalan dengan baik, optimistis penulis, tidak akan ada lagi gerakan separatis ataupun radikalisme yang dikhawatirkan kontemporer. Ritualitas Nasional harus mulai dianggap serius, ditengah arus globalisasi kekinian, bukan tidak mungkin, generasi bangsa lebih mengagungkan budaya barat ketimbang budaya sendiri, dan hal itu mulai mengkhawatirkan.

Nasionalisme itu prinsip, bukan Nasionalisme ritualitas. Persatuan dan kesatuan mutlak, bukan perpecahan dan permusuhan berambisi. Jakarta, 17 Agustus 2017.

Penulis : Asrizal (Koordinator Bidang Kajian Ilmiah Kepma Bima Yogyakarta).