Menyisir Akar Konflik Antara Muhammadiyah dan NU
Cari Berita

Advertisement

Menyisir Akar Konflik Antara Muhammadiyah dan NU

Jumat, 18 Agustus 2017

Foto : Penulis
Fachry Ali dalam sebuah artikel pernah menyebut tentang Islam yang masuk Indonesia adalah Islam yang sudah kalah. Sementara Mukti Ali mengurai tentang selisih kecil para wali soal cara berdakwah.

Seteru antara Kanjeng Sunan Ngampel dan Kanjeng Sunan Kalijogo menarik disimak. Kanjeng Sunan Ngampel tidak begitu berkenan dengan model dakwah Kanjeng Sunan Kalijogo yang menggunakan budaya sebagai perangkat. Dikawatirkan dapat menganggu kemurnian ajaran Islam. Demikian Kanjeng Sunan Ngampel memberi penjelasan kepada murid kesayangannya.

Sunan Kalijogo punya alasan lain, boleh jadi lebih pas untuk kondisi sosial kepercayaan dan demografi. Orang Jawa atau nusantara pada umumnya tak bisa dilepaskan dari budaya. Fungsi budaya bukan saja sebagai simbol, tapi sudah merupakan pakaian yang tak mungkin ditanggalkan. Jangan usik budayanya sebab dengan begitu Islam akan dimusuhi. Sunan Kalijogo ta'dzim beragumentasi.

Diskusi menarik antara santri dan guru. Untuk perjuangan dan dakwah Islam yang lebih bijak. Kanjeng Sunan Ngampel paham dan memberikan keleluasaan kepada santrinya untuk ber-ijtihad.

Diskursus berkembang dinamis. Meski kemudian melahirkan disparitas aliran Islam di awal perkembangan. Wali pesisir dan wali pedalaman. Islam pesisir dan Islam pedalaman. Dua warna aliran ini kemudian berkembang dengan varian baru yang lebih otentik. Kekayaan khazanah Islam nusantara yang indah dan kaya warna.

Wali pesisir diantaranya: Sunan Gresik, Sunan Ngampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, dan Sunan Gunungjati lebih lekat dengan Islam puritan. Wali pedalaman: Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Drajad dan Syeikh Lemah Abang atau Siti Djenar kental dengan watak kultural sekaligus sinkretis. Dua aliran Islam ini dalam perkembangannya saling berebut dan bersaing.

Puncaknya adalah ketika dukungan para wali terbelah. Dalam perebutan kekuasaan Kesultanan Pajang Demak Bintoro. Sunan Kudus mendukung Arya Penangsang sedang Sunan Kalijogo mendukung Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir memenangi pertarungan dan jumeneng menjadi Sultan Hadi Wijaya di tanah Jawa yang didukung wali pedalaman. Islam kultural besutan Kanjeng Sunan Kalijogo kukuh berkuasa. Islam kultural mendapat legitimasi. Untuk sementara Islam pesisir mengalami marginalisasi bahkan banyak kehilangan pengaruh juga pengikut.

Polemik dan konflik paham keberagamaan mengemuka. Syaikh Lemah Abang yang dalam beberapa temuan ternyata adalah Sunan Kalijogo sendiri yang mengejawantah pada paham wihdat al wujud harus rela 'dimatikan' karena dianggap sesat. Hukuman dilakukan di depan para wali pesisir yang dipimpin Sunan Kudus.

Kalau benar Syaikh Lemah Abang adalah Sunan Kalijogo sendiri. Ini adalah bentuk pembalasan wali pesisir atas kekalahannya pada pentas politik di kesultanan Demak sebelumnya. Sebuah pembalasan yang eksotik di kalangan para wali.

Cerita tentang perseteruan dan konflik paham keberagamaan para wali memang pelik dan tertutup sejak awal. Tak mudah diurai karena kurangnya data otentik yang bisa divalidasi.

Alfian Ketua LIPI di awal tahun 80-an, menyatakan sangat sulit membuktikan secara akademis, tapi perseteruan itu memang memiliki benang merah yang sangat kuat. Dengan melihat berbagai indikator semisal Islam pesisir yang puritan dan Islam pedalaman yang kultural-sinkretis.

Dari sinilah sebenarnya konflik antara MUHAMADIYAH dan NU bermula dan bisa dilacak.

Siapa tahu pertarungan head to head antara Arya Penangsang dengan Jaka Tingkir jilid 2 bisa diulang.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar