Kemenangan Dialektik : Dua Ormas Besar Berebut Hegemoni
Cari Berita

Advertisement

Kemenangan Dialektik : Dua Ormas Besar Berebut Hegemoni

Sabtu, 19 Agustus 2017

Foto : Penulis
Tak perlu menjelaskan kebaikan dan keunggulan gagasan briliant semacam full-day jika awalnya memang sudah tak suka. Betapapun penjelasan, sebaik apapun gagasan dan ide, tak bakal mampu meluluhkan sikap tidak suka.

Maka tidak perlu penjelasan bagaimana irasionalnya korelasi full-day dan matinya madrasah. Atau full-day yang disebut sebagai kebijakan kolonialis anti agama. Intoleran dan picu lahirnya radikalisme. Bahkan merusak akhlak. Kita bisa lihat, hanya soal full-day berani pertaruhkan dukungan terhadap Presiden. NU rela menempuh jalan irasional untuk melawan. Artinya ini sudah cukup untuk menakar betapa sengit persaingan keduanya. Mungkin ini terlalu jauh berpikir dan sepertinya tidak penting.

Jujur saya lebih tertarik membahas dendam dua ormas besar yang bersaing berebut hegemoni. Kekuasaan dan legitimasi. Inilah akar soalnya. Dan semua sudah tahu, ini bukan rahasia lagi.

Sejak mula, NU sejatinya adalah reaksi para ulama tradisional yang gelisah dengan hadirnya kaum muda. Resah karena kemapanannya terusik. NU hadir dan berdiri tahun 1926 sebagai jawaban terhadap MUHAMADIYAH yang digagas tahun 1912. Setelah empat belas tahun berselang. Demikian Dr. Alfian peneliti senior dan ketua LIPI menjelaskan.

Kemudian kompetisi terus berlanjut dalam berbagai aspek. Berbagai ikhtiar pernah dilakukan untuk menyatukan. Masyumi salah satunya. Namun NU tidak kerasan dan keluar. Pada masa orde lama NU juga mengambil jalan berbeda dengan membangun Poros Nasakom.

Pada masa reformasi ikhtiar tetap digagas. Lewat Poros Tengah bikinan Amien Rais, Gus Dur berhasil diusung menempati posisi paling puncak sebagai RI 1. Kala itu kalangan Islam idealis puas melihat dua ormas besar bersatu merawat negeri. Sayangnya tak berlangsung lama. Gus Dur pun di impeachment dan jatuh.

Aroma konflik keduanya semakin kental, dan bukan soal isi. Tapi lebih hanya pada soal hegemoni berebut kuasa. Full-day hanyalah media untuk menakar seberapa kuat keduanya punya bargaining posisi di istana. Jadi berhentilah menjelaskan keunggulan full-day. Ini soal kompetisi merebut posisi.

Keunggulan MUHAMADIYAH atas NU adalah keunggulan dialektik. Awalnya dihujat kemudian ditiru. Awalnya dibully kemudian dibenarkan ramai-ramai.

Semua yang dilakukan MUHAMADIYAH dihujat termasuk mendirikan perkumpulan yang katanya bid'ah. Membangun sekolah yang dibilang kafir karena menggunakan sistem klasikal, menggunakan kursi dan meja. Membangun rumah sakit yang katanya melawan taqdir. Menterjemah Al Quran yang mereka bilang melawan kesucian. Termasuk shalat menghadap kiblat. Tapi percayalah semuanya bakal ditiru. Itulah kemenangan dialektik, kata Gus Dur pendek.

Dan kami memilih diam menahan diri untuk tidak larut membalas dengan pernyataan yang kasar lagi menyakitkan, meski telinga dan hati kami kerap dibuat panas dan tersinggung. Lebih karena hormat dan tawadhu' kami kepada ormas besar tempat dimana Kyai Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), Kyai Maimun Zubair (mbah Maimun), Kyai Mas Ahmad Subadar, dan beberapa kyai lainnya yang sangat saya hormati berkhidmad ... ". 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar