Indonesia Malaysia Berebut Hegemoni, Kita Kalah Lagi
Cari Berita

Advertisement

Indonesia Malaysia Berebut Hegemoni, Kita Kalah Lagi

Selasa, 29 Agustus 2017

Foto : Penulis
Terseok di urutan lima perolehan medali dan keok atas Malaysia pada cabang sepak bola di Asean Games setelah dua dasa warsa sebelumnya berada di puncak cukup menjadi indikator bahwa kita hampir binasa. Dalam sepak bola pemenang adalah berapa kali bola dapat melesak ke gawang lawan. Bukan berapa prosen bola dikuasai atau seindah apa permainan.

Tak ada korelasi antara sepak bola dengan kemajuan atau kemunduran suatu negara tapi setidaknya ia adalah hiburan saat semua harga kebutuhan terus merambat naik. Seakan Tuhan tak mengijinkan kami tersenyum sedikit.

Meski olah raga tidak selamanya menjadi ukuran kemajuan suatu bangsa.

ASEAN hanya kawasan kecil. Bertetangga sangat dekat. Memiliki banyak kesamaan bahkan dekat dalam ras dan bahasa, bernasib sama. Pernah dijajah selama ratusan tahun.

Kita pernah menjadi bangsa yang besar. Sejak masa kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kesultanan Mataram hingga kemerdekaan sebelum reformasi. Selama itu kita selalu diatas.

Reformasi seakan menjadi titik balik. Nasionalisme kita menguap. Rasa hormat pada pemimpin raib. Bahkan kita bebas membully Presiden atau siapapun yang tidak kita suka tanpa batas. Reformasi telah melahirkan demokrasi tanpa tata krama.

Sebagaibangsa kita kehilangan marwah. Beberapa negara tetangga yang dulu ramah mulai berani mengusik. Termasuk Malaysia dan Singapura. Negara serumpun yang berebut hegemoni. Persaingan yang dulu sembunyi-sembunyi kini vulgar dan kasat mata.

Sepak bola setidaknya mengilustrasikan itu semua. Dan kita keok meski semua lini kita kuasai. Kita lupa bahwa ada tugas besar dalam sepak bola adalah melesakkan bola sebanyak mungkin ke gawang lawan. Bukan berlama lama merawat bola di kaki. Akhirnya kita keok lagi.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar