Bima Ramah, Anak Sebagai Solusi Konflik Sosial
Cari Berita

Advertisement

Bima Ramah, Anak Sebagai Solusi Konflik Sosial

Selasa, 15 Agustus 2017

Foto : Penulis
Konflik adalah pertentangan salah seorang dengan orang lain sehingga menimbulkan perselisihan. Konflik tidak hanya berbentuk pertemuan fisik, melainkan perbedaan pendapat, ilmu pengetahuan, dan adat istiadat.

Pada dasarnya konflik merupakan hal yang sangat wajar dalam berkehidupan dan tidak menuntut kemungkinan semua mahluk yang bernyawa terutama manusia pernah mengalami konflik. Konflik tetap akan terjadi semasih kita berkehiduapan, karena kehadiran kita dimuka bumi ini atas dasar dari adanya konflik dan perbedaan pendapat.

Tidak ada satupun orang yang bisa menyelesaikan konflik orang lain, bahkan aparat keamanan maupun polisi tidak mampu menyelesaikan masalah konflik, melainkan dirinya sendiri atau sikelompok pembuat konflik yang akan menyelesaikanya.

Anak merupakan mahluk suci yang harus kita jaga dan pelihara, karena mereka akan menjadi generasi penerus bagi kesejahteraan keluarga, lingkungan masyrakat, daerah, bangsah dan negara. Anak adalah sektor utama dalam mengawal kesejahteraan masyarakat, sejahtera maksudnya disini tidak hanya berpacu pada pembangunan, pendidikan, kekayaan, dan hal lainya yang nampak. Kesejahteraan yang dimaksud disini ialah bentuk senang, gembira, dan bahagia hati oleh orang orang tua, masyarakat terhadap apa yang dilakukan oleh anak-anak.

Anak tidak bisa berkembang dengan baik tanpa orang tua yang membimbingnya, karena anak butuh kasih sayang dari orang tua dan keluarga agar berproses dengan baik. Tanpa orang tua yang mengawal akan sulit anak ini berkembang baik, juga lingkunganya akan tidak teratur.

Kita tau bahwa, konflik setiap saat hadir ditengah-tengah kita, sadar ataupun tidak sadar konflik tetap ada disekitar kita bahkan dalam diri pribadi. Daerah bima adalah salah satu daerah yang memiliki kelebihan tersendiri, daerah yang unggul dalam sektor nilai moral agama, pendidikan, budaya, dan sosial.

Hukumnya wajib bagi daerah ini untuk melestarikan keramahan pada setiap anak, tidak ada unsur kesepihakan antara anak pejabat dengan masyarakat, anak guru dengan petani, dan anak-anak yang lainya. Karena lahirnya konflik sosial itu atas dasar dari kesepihakan.

Sekarang ini, kita tau bahwa bima masih dalam wilayah konflik hebat, walau demikian rupanya daerah bima juga memiliki unsur kebudayaan yang luar biasa yaitu “Cua meci angi” (Saling mencintai satu sama lain). Walau sering kali terjadi konflik pada daerah ini, mereka tetap akan cepat akur dan saling mencintai satu sama lain, karena itu sudah menjadi kebiasaan atau cara dari orang-orang bima untuk saling menyapa demi kerukunan keluarga dan masyrakat.

Peran pemerintah sejauh inipun sudah hampir mencapai titik yang diinginkan, perjuangan untuk membuat daerah tersebut menjadi rama walau ada sedikit kerikil yang membentengi perjuangan ini, karena dari awal penulis sampaikan, semasih kita memiliki persaingan maka semuanya tidak akan bisa dengan cepat, harus ada sikap sabar dan tawadhu yang dimiliki oleh para pemerintah.

Wilayah ini tidak bisa kita ukir layaknya ukiran gambar diatas kertas putih yang cepat dan bisa terlihat hasilnya, akan tetapi banyak persoalan yang layalnya dilewati, seperti air mengalir walau banyak bebatuan yang menghadang, tetap pada intinya air itu akan menuju pada tujuan utamanya yaitu laut.

Harapan besarnya adalah pemerintah tetap sabar dan antusias memberikan dukungan moril maupun material terhadap masyarakat, juga harus tetap turun mengecek sendiri dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh aparat pemerintah desa dalam hal kemujuan dan kesejahteraan masyrakat. Misal seperti kegiatan sore mengaji, maupun kegiatan lainya yang membentuk semangat anak-anak, remaja, pemuda, dan masyarakat untuk selalu menjaga kedamaian dan kerukanan antara satu sama lain.

Inilah yang dimaksud dengan pemerintah yang ikhlas dan amanah dalam mengembang sumpah dan jabatan, turun mengecek, turun berpartisipasi, turun nengadakan kegiatan motivasi anak-anak tiap desa, sehingga masyrakata mencintai pemerintahnya, dan pada akhirnya masyarakat akan balik menjaga apa yang diharapkan pemerintah, terutama menjaga kerukunan dan konflik yang tidak diharapkan.

Penulis : Muhammad akhir (Mahasiswa jogjakarta)