Ada Apa Dengan NU
Cari Berita

Advertisement

Ada Apa Dengan NU

Selasa, 15 Agustus 2017

Foto : Penulis
Apa yang telah dilakukan MUHAMADIYAH sehingga NU begitu benci. Pertanyaan ini bagi sebagian besar jamaah MUHAMADIYAH di kalangan grass roote begitu biasa dan menjadi bincang harian. Bahkan beberapa warga MUHAMADIYAH harus putus silaturrahim, renggang sedikit meski dengan kerabat sendiri akibat aktif di Muhammadiyah.

Benarkah hanya karena orang Muhammadiyah tidak melafalkan ushali saat shalat. Tidak membaca qunut saat shalat subuh. Tidak membaca sayidina pada duduk tahiyat. Tidak membaca diba' dan manakib atau tidak membaca shalawat pada malam Jumat. Tidak ziarah kubur pada kuburan para wali yang dianggap keramat.

Benarkah hanya itu yang membuat mereka begitu benci dan tidak suka pada kami. Benarkah MUHAMADIYAH tidak melakukan itu semua. Siapa bilang. Kami berniat dalam hal apapun bedanya kami tidak mengucapkan niat itu secara lisan. Kami juga qunut. Pada 10 hari terakhir ramadhan. Kami juga biasa menyebut sayidina pada junjungan kami di luar tahiyat. Kami juga sangat mencintai nabi dengan cara yang kami sukai. Kami juga tetap berziarah dan bersedekah kepada orang tua kami yang sudah meninggal dan mendoakan orang yang telah mati. Lantas apa ada alasan untuk membenci kami ? Kami merasakan setiap hari dengan moncong pengeras suara yang diarahkan ke telinga kami.

Mungkin tak se-sederhana itu soalnya. Tapi apa. Sehingga kami patut dibenci dan dimusuhi. Ujaran kebencian dan permusuhan begitu vulgar karena diucapkan dari lisan orang nomor satu di NU. Yang kemudian diikuti dengan ulama-ulama panutan. Sungguh disayangkan. Dan kami bersyukur tak satupun dari pemimpin kami yang membalas.

Bahkan terkesan di politisir untuk membuat jutaan pengikutnya memusuhi kami. Umat diajari marah dan membenci. Kami merasakan sudah sangat lama. Tapi kami diam menahan diri. Tidak membalas kebencian dengan kemarahan yang melahirkan permusuhan. Karena kami sangat menghormati para ulama dan kyai yang berkhidmat. Kami menganggapnya saudara seiman. Berbeda sedikit itu biasa. Dan tak harus dijadikan komoditas politik meraih kekuasaan.

Kami juga tak bersuara dan menahan diri untuk tidak berkomentar tentang dana 1,3 t. Tetap berskunudzan dan mendoakan dalam keberkahan.

Bagaimana mungkin ulama sekaliber Yang Mulia KH Aqil Syiradz salah baca dan salah dengar tentang pendidikan penguatan karakter (PPK) menjadi FDS. Yang kemudian diplintir dengan sangat keji. Disertai fitnah yang profokatif. Kami kaget dan menahan napas dengan apa yang dilakukan Kyai Ma'ruf Amin, Kyai Aqil Syiradz, Cak Imin dan Kyai Muttawakkil.

Apa tidak sebaiknya ditabayunkan sebelum dinyatakan pada publik. Apakah saya harus mengajari cara-cara santun bermuamalah. Menunjukkan bagaimana para ulama salaf, para Imam mazhab ketika mereka berbeda pendapat. Apalagi hanya pada soal furu'.

Semua yang para kyai lakukan menjadi panutan dan tuntunan kami. Jadi mengertilah karena kami akan menjadikannya sebagai uswah. Termasuk cara kyai bertengkar.

Jujur saya ingin bersilaturahim. 'Ngawulo' kepada Gus Mus, Mbah Maimun, Romo Kyai Mas Subadar kenapa kami dimusuhi ? Percayalah kami sangat mencintai para kyai dan ulama pewaris para nabi dengan seluruh jiwa dan hati. Sekalian meminta maaf apabila kami ada salah ucap dan salah laku.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar