Saat Menolong Korban Yang di Sandra, Erwin Kena Sajam Pelaku
Cari Berita

Advertisement

Saat Menolong Korban Yang di Sandra, Erwin Kena Sajam Pelaku

Selasa, 11 Juli 2017

Erwin sedang di kunjungi oleh keluarga dan para kerabat di rumahnya
Indikatorbima.com - Keberanian Erwin (38) Tahun Warga dusun doroma, desa sangiang, kecamatan wera, kabupaten bima patut di acungi jempol. Bagaimana tidak, di tengah todongan pistol rakitan, parang, dan pisau pelaku penyadraan. Erwin masih saja berani maju untuk menolong korban penyandraan. Selasa, (11/7/17).

Seperti pemberitaan sebelumnya, Peristiwa penyandraan yang dilakukan oleh ilias (24) tahun terhadap Jona (22) Tahun di desa sangiang kecamatan wera kabupaten bima (9/17) terjadi sekitar pukul 03.00 Wita. Penyandraan tersebut berlangsung cukup lama yaitu lebih kurang 1 jam hingga ba'da Subuh.

Dalam peristiwa penyandraan yang terjadi sangatlah dramatis, pasalnya pada saat melakukan aksi tersebut pelaku tidak hanya menodong korban yang di sandranya, namun juga kepada siapapun yang mendekat (siap tembak). Pelaku seolah siap mati dengan siapapun yang berusaha mendekati dirinya dengan sandra yang ia bawa. Menurut keterangan saksi, pelaku sangat agresif. Bahkan ia sempat mengatakan kepada semua masa yang sedang mengepungnya. Bahwa ia siap mati namun ia tak rela mati sendirian, melainkan harus ada orang yang mati bersamanya.

"Dia seperti dalam keadaan siap mati, tapi dia tidak ingin mati sendiri, melainkan harus ada yang mati bersamanya, makanya masa tidak berani mendekat" ujar Amar kepada indikator bima.

"Disamping itu masa juga tidak ingin salah bertindak. Karna kalai sedikit saja salah. Maka pelaku tidak akan segan-segan membunuh pelaku" tambah amar.

Namun di tengah-tengah kegelisahan dan kepanikan masa, Erwin maju memberanikan diri untuk bermediasi dengan pelaku. Sekalipun ia di todong dengan pistol dan di ancam dengan parang, Erwin tetap maju mendekati pelaku dengan sandranya. Erwin bermaksud ingin mengalihkan perhatian pelaku, serta mengulur waktu menunggu kedatangan pihak kepolisian.

"Untuk mengalihkan perhatian sambil nunggu polisi datang, agar pelaku tidak nekad untuk mengambil tindakan yg lebih brutal, lagian motor itu udah kita putusin kabel businya kok, jadi nggak bakal hidup" ujar Erwin.

Erwin mengaku, sejak awal ia sudah dekat dengan pelaku, sehingga ia mendapatkan sedikit kepercayaan pada pelaku. Namun tetap saja, pistol dan parang mengawasinya ketika mendekat.

"Dari awal aku selalu dekat dengan pelaku, jadi dia agak percaya sama saya, hanya pistol yang kadang ditodongkan sama saya terlalu mendekat dengan dia" tutur bapak tiga orang anak ini.

Ketika melakukan hal mencengangkan itu, Erwin mengaku tak ada sedikitpun berpikir tentang kematian dirinya. Bahwa ia bisa saja di tampak oleh pelaku. Yang ada dipikirannya saat iru adalah bagaimana caranya segera menolong korban. Hati kecilnya menangis ketika melihat korban diperlakukan seperti binatang oleh pelaku. Ia bahkan tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada adik atau saudaranya sendiri.

"Nggak ada kepikiran mati pada saat itu, hati menangis melihat perlakuan pelaku terhadap korban, coba kita bayangkan kalau adek atau saudari kita diperlakukan seperti itu" teranngya.

Ketika ia berhasil bermediasi dengan pelaku, Erwin berpura-pura membantu pelaku untuk menyalakan motor pelaku. Namun ketika men-starter kaki motor pelaku, Erwin tidak tau bahwa dibawah dibagian starter motor pelaku terdapat sebuah parang. Parang itulah yang melukai kakinya. Pada saat itu Erwin langsung di bawa ke puskesmas untuk mendapat perawan lebih lanjut. Sekalipun Erwin terluka, ia bahkan tidak mau pindah tempat meninggalkan korban yang di sandra. Ia bersikeras ingin menolong korban. Namun para kerabatnnya memaksa ia harus di bawa ke puskesmas, sebab luka di kakinya cukup parah. Darahnya terus keluar bercucuran.

Erwin berharap, korban yang hingga kini masih trauma segera membaik dan peristiwa mengerikan tersebut tidak terjadi kepada yang lain, Erwin juga berharap agar pelaku segera di tangkap dan debrikan himuman yang setimpal dengan perbuatannya.

"Korban sekarang trauma, semoga tidak terjadi pada yang lain Semoga pelaku segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya" harapnya.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh Erwin saat itu cukup membuahkan hasil, meskipun dirinya harus menderita luka di bagian kaki kanannya. 30 jahitan luar dan dalam harus ia tanggung. Hingga saat ini dirinya masih belum bisa berjalan normal. 

Pewarta : Furkan