Rumpun Bahasa Inge Ndai "Bahasa Asli Bima Dulu"
Cari Berita

Advertisement

Rumpun Bahasa Inge Ndai "Bahasa Asli Bima Dulu"

Sabtu, 15 Juli 2017

Foto : Taufiqurrahman
Bahasa merupakan salah satu bentuk verbal berkomunikasi dalam kehidupan sehari- hari. Dengan bahasa kita dapat mengenal dan memahami maksud apa yang akan di bicarakan.

Salah satu daerah yang ada di kabupaten bima yakni kecamatan lambitu yang terletak di gugusan pegunungan lambitu di bagian tenggara kota bima. Kecamatan lambitu merupakan wilayah kecamatan wawo yang terdiri dari beberapa desa meliputi Desa Kaowa, Desa Teta, desa, Londu, desa Kuta, desa Sambori ,dan  desa Kaboro. Dari beberapa desa memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi budayanya, sejarah maupun bahasanya.

Bahasa menjadi salah satu keunikan dan ciri khas yang ada di kecamatan lambitu. Dari ke enam desa tersebut yang memiliki perbedaan logat dan sebagian arti bahasa di setiap desa. Berdasarkan catatan sejarah perkembangannya Bahasa Bima dibagi dalam 2 kelompok yaitu :
1. Kelompok Bahasa lama meliputi ; Bahasa Donggo, dipakai oleh masyarakat Donggo Ipa yang bermukim di pegunungan sebelah barat teluk Bima meliputi desa O’O, Kala, Mbawa, Palama, Padende, Kananta dan Doridungga. Bahasa INGE NDAI yang dituturkan oleh masyarakat Donggo Ele yang bermukim di lereng Gunung Lambitu Wawo Tengah) meliputi desa Tarlawi, Kuta, Sambori, Teta, Kaowa, dan Kaboro, dan londu.
2. Kelompok Bahasa baru, yang biasa disebut dengan Nggahi Mbojo, digunakan oleh masyarakat umum di Bima dan berfungsi sebagai bahasa ibu. Khusus bagi masyarakat Sambori dan pemakai bahasa Bima lama lainnya , Bahasa Bima baru berfungsi sebagai pengantar komunikasi dengan orang lain di luar kalangan mereka. Sedangkan khusus untuk di kalangan mereka, Bahasa Sambori dan Donggo tetap digunakan sebagai alat komunikasi. (H. Abdullah Tayib, BA : Sejarah Bima Dana Mbojo Hal : 36) Jika dicermati dari beberapa kata memiliki kesamaan dengan bahasa Bugis, Flores, Manggarai, Sumbawa, Melayu dan suku-suku lain di Indonesia.

Misalnya Manasu dan Manu yang berarti memasak, sama dengan bahasa Bugis. Asu yang berarti anjing, sama dengan bahasa Manggarai dan Sumbawa. Mate yang berarti mati sama dengan Bahasa Sumbawa dan Bugis. Kemiri, Nangka juga sama dengan bahasa Melayu. Dan masih banyak kosa kata lainnya yang memiliki persamaan. Tapi pada sebagian besar kata-katanya memiliki kesamaan dengan Nggahi Mbojo / Bahasa Bima. Berikut beberapa contoh bahasa Inge Ndai, Lambitu - Mbojo - Indonesia
1. Otu - Maru- Tidur
2. Ate - Ne,e/Ca'u - Suka
3. Pare - Fare - Padi
4. Manuba - Duba - Mencuci
5. Rae - Nahu - Kamu
6. Eme - Ita - Bapak (Orang yang lebih tua) 7. Uta - Moro - Uta Mbeca - Sayur
8. Uta - Mbohi - Uta Moti - Ikan Laut
9. Kaliu - Ncai - Jalan
10. Asa A’u - Ncai Uma - Pintu Rumah
11. Kambau - Sahe - Kerbau
12. Lako - Lako - Anjing
13 Diha - Riha - Dapur
14 Kari - Hari - Tertawa
15. Wine -Siwe - Perempuan
16. Kababu - Baju - Baju
17. Mpara - Cowa - Berbohong
18. Latu - Jago - Jagung
20. Tu’a - Teka - Naik
21. Purru - Londo - Turun
22. Piri - Rata - Rata
23. Po’o - Tuta - Kepala
24. Lima - Rima - Tangan
25. Langge - Edi - Kaki
26. Paresa - Nuntu - Bicara
27. Mpodo - Pili - Sakit
28 Manu -Janga - Ayam
29. Kataba - Kapenta - Papan Kayu
30. Wu’a - U’a - Pinang

Penulis : Taufiqurrahman