Rapuhnya Moral Anak Pertiwi
Cari Berita

Advertisement

Rapuhnya Moral Anak Pertiwi

Sabtu, 15 Juli 2017

Dua orang pemuda sedang berjiarah ke kuburan, sebuah ilustrasi atas kematian moral anak pertiwi
Tulang punggung bangsa ini perlahan-lahan semakin rapuh, terlihat dari kondisi pemudanya yang semakin rusak bangsa kita terkenal dengan bangsa yang ramah dan beretika entah dengan kondisi hari ini. Demoralisasi bukan merupakan hal yang baru ditelinga kita kekerasan antar remaja, tauran dan pergaulan bebas sering kita jumpai di media-media online dan media cetak lainnya.

Degradasi moral merupakan kemunduran moral dalam semua aspek baik dari tutur kata dan prilaku dalam masyarakat lebih spesifiknya pada remaja hari ini. Setiap perilaku seseorang selain dibentuk oleh keluarga juga banyak dibentuk oleh lingkungan.

Berbicara mengenai degradasi moral yang terjadi hari ini banyak diakibatkan oleh ketidak mampuan anak-anak muda khususnga remaja dalam melakukan proses filterasi dari dampak Moderenisasi dan globalisasi yang terjadi sehingga para remaja dengan mudah mengikuti budaya luar tanpa proses filterisasi terlebih dahulu. Berbagai benturan globalisasi menggerus moral bangsa dengan berbagai bentuk, hedonisme dan mengabaikan prinsip-prinsip etika dalam masyarakat dan hal tersebut didukung oleh adanya akses informasi yang cepat yang memberikan suguhan dan bumbu-bumbu yang dapat dengan mudah diterima oleh remaja hari ini.

Mahasiswa yang notabeninya adalah remaja dengan semangat yang masih hangat dikenal dengan predikat "agen of change" dan sebagai penerus stafet pembangunan bangsa ini yang juga dikenal dengan idealisme mereka yang cendrung pada perubahan yang positif sehingga sikap idealisme mahasiswa banyak dinantikan oleh masyarakat dan karena idealisme merekalah mahasiswa mendapatkan tempat istimewa dalam masyarakat. Akan tetapi jika seperti hari ini entah apa yang akan terjadi apabila moralitas mereka rusak dan tidak dapat dipertanggung jawabkan dan justru hanya akan menjadi salah satu pemicu dari kehancuran bangsa ini, dikuatkan dengan berbagai macam peristiwa seperti semakin banyaknya anak-anak rwmaja yang terjerumus pada jurang hitam dengan mengikuti arus birahi yang semakin beringas dan tidak tahu tempat seperti seks bebas dan lain sebagainya.

Dunia pendidikan nyaris tidak dapat memberikan dampak positif dalam membentuk karakter dan penataan moralitas bagi anak didik. Menurut data survei yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010 untuk daerah jabotabek, bahwa sekitar 15 % remaja sudah pernah atau biasa berhubungan seks, dan 62 % aborsi dilakukan oleh remaja yang pastinya belum menikah sungguh mengerikan.

Tidak dapat terbantahkan bahwa kondisi tersebut benar-benar terjadi hari ini, dalam dunia perguruan tinggi baik swasta ataupun negeri tidak bisa lepas dari cengkraman degradasi moral tersebut. Baru-baru ini terkuak dua kasus pembunuhan bayi yang dilakukan oleh seorang mahasiswi dari salah satu kampus ternama dengan motiv yang sama yaitu "hamil diluar nikah". Pertama, terjadi pada bulan maret 2017 seorang mahasiswi yang melahirkan bayinya di kamar kostnya dan yang kedua, dilakukan oleh mahasiswi berisinial ND awal bulan Juli 2017 yang membuang darah dagingnya ke tempat sampah dua kasus tersebut hanya sekian dari berbagai kasus hamil diluar nikah yang dilakukan oleh mahasiswa yang berujung pada kerugian mereka sendiri.

Dari dua kasus tersebut menunjukkan dan menjadi gambaran bahawa anak bangsa ini mengalami degradasi moral yang sangat memperihatinkan dan membutuhkan antisipasi yang sangat serius.

Semua elemen yang ada harus saling merangkul satu sama lain dalam mengatasi kkndisi ini. Adanya pengawasan yang ketat dari keluarga karena peran serta Keluarga mempunyai entry point atas karakter individu mahasiswa yang dibawa dalam kehidupan lingkungan mahasiswa itu sendiri. Selain dari pada itu, mengutip penyampaian dari Yudi Latif bahwa dalam mengatasi degradasi moral tidak cukup dilakukan hanya melalui transformasi institusional, tetapi diikuti oleh transformasi spiritual yang mengarahkan pada kehidupan yang beretika dan welas asih.

Penulis : Mas'udi