(Puisi) Hidupku Berarti Sekali
Cari Berita

Advertisement

(Puisi) Hidupku Berarti Sekali

Minggu, 02 Juli 2017


Ku angkat dua alis mata dengan dahi yang terkerut.
Ku ingat-ingat, ku raba-raba, ku elus-elus Separuh hati. aku menangis, aku merintih, aku berdo'a.

Aku lahir di suatu pulau, aku di besarkan dengan nasi ubi, air mandiku air hujan galian tanah pada lorong-lorong gunung.

Aku dan hutan adalah teman, aku dan laut berkarang adalah sahabat, aku adalah ikan di antara ikan-ikan segar, aku hidup pada kebun-kebun wijen.

Oh aku rindu masa-masa itu, Ketika aku menyanyikan lagu untuk para kelelawar yang lupa dengan kantung sirihnya. Merdunya lagu para nenek moyang tanpa musik.

Aku ingat dulu pada kekinan, aku sangat ingat bahkan tiada lupa.

Kini telapak tangan ku jadikan cermin, Kuhelai rambut menyisirnya rapi, Ikat pinggang ku eratkan pada perut yang mulai membuncit, Gigi memutih ketika tersenyum, kutata rapi padamu gusi-gusi yang juga putih.

Aku mendengarnya, suara-auara harapan, aku melihatnya tangan-tangan yang melambai dada, Aku merasakan rasa, aku mencium bau-bau langit pada hujan, bumi pun membuka mata.

Aku melihat diriku padamu, aku tak bisa lihat diriku sendiri. Pada matamu aku ada. Olehnya keseringan kutatap matamu.

Oh, wajah-wajah yang kusam tak bersinar, akankah kau malu pada dirimu yang hina. Kau cabik bulu-bulu itu agar Indah kulitmu. Kau tempa emas-emas permata, kau gunakan gaun-gaun putih, kotorlah dirimu yang hitam.

Luar biasa, kancing bajumu kau lepas-lepas, dadamu kemana-kemana. Kau menarik tapi kau sendiri tak tertarik. Hebat untuk dirimu sendiri.

Rupanya aku serupa denganmu, Akulah aku yang hingga kini tiada tau siapa diri, akulah diriku yang lupa siapa aku.

Oh tuanya nasibmu, setua umurmu yang masih muda. Kau tata hidup ini, kau titik tanpa koma. Tapi bukan alasanmu untuk berhenti, teruslah melangkah, pada jejakmu mereka belajar, pada jejakmu jalan-jalan hidup akan tercipta.

Kau tidak boleh lupa, kau tidak boleh sombong. Kau tidak boleh hidup dalam kebodohan.

Peganglah prinsipmu erat-erat, katakan bahwa benar adalah benar, dan salah adalah salah.

Penulis : Furkan