(Novel 1) Persekutuan Iblis
Cari Berita

Advertisement

(Novel 1) Persekutuan Iblis

Sabtu, 08 Juli 2017

Ilustrasi (Foto : sjcctimes.com)
Setiap tahun tepatnya pada musim kemarau di desa itu selalu tandus, seolah di sana seperti tak ada kehidupan. Jika kemarau datang orang-orang di desa selalu mengatakan air lebih berharga dari pada emas, intan atau pun bahan mengkilap lainnya. Dan jika musim kemarau berlalu dan berganti ke musim hujan, lorong-lorong terlihat sepi karena orang-orang desa tidak suka berjalan di atas lorong yang terendam lumpur, hidup di sana serba sulit, hanya orang-orang yang berumur yang masih setia bermukim di desa itu sembari menikmati sisa-sisa umurnya, sedangkan putra desa sebagian besar merantau mengadu nasib di daerah orang lain dan kebanyakan dari mereka tak pernah pulang, sehingga bertambahnya hari, bulan dan tahun desa itu kian sunyi dan menyisakan rumah-rumah bambu yang tak berpenghuni.

Penduduk desa lain menyebut desa itu sebagai desa sunyi. Aku sangat suka tinggal di desa sunyi itu, jika pagi datang matahari bisa langsung dilihat bergantung di atas gunung dengan sinarnya yang jingga menghangatkan mata, jika menjelang siang orang-orang desa bergerombolan menuju surau yang letaknya dekat dengan sungai kecil yang membentang di depan rumahku, dan jika malam membungkus sore bintang-bintang pun indah menyelimuti malam, pada malam hari biasanya kami bersama tetua desa duduk di serambi surau berbincang-bincang tentang senar pancing yang putus disambar ikan raksasa, atau berbincang-bincang tentang mandor yang tidak berhasil menagkapnya ketika mereka mengambil sebatang pohon jati di belakang kebunnya.

Cerita itu akan terhenti saat kepala surau menguap sembari menggoyang-goyangkan kepalanya, hal tersebut menandakan bahwa cerita itu mesti diakhiri dan tetua-tetua desa pun mesti pergi ke rumah bambu masing-masing dan membungkus ranjangnya dengan kain kelambu. Di desaku posisi laki-laki dan wanita sederajat, suami melaut istri pun demikin, jika suaminya mendayung sampan maka istrinya yang mengemudi atau memasang layar dan jika istrinya turun sawah maka suaminya yang membajak sawah, meskipun demikian orang-orang di desaku tidak pernah mengeluh dalam hal pekerjaan terkecuali dengan urusan air, karena di desaku tidak ada sumber mata air, kami membeli air dari desa tetangga biasanya kami menukar hasil melaut dengan beberapa baskom air untuk dijadikan air minum, sedangkan untuk keperluan mandi kami mandi air sungai dan air sawah.

Orang kebanyakan memanggilku dengan sebutan Tresno, orang-orang di desaku sukanya merubah-rubah nama, baginya nama tidaklah beda dengan membangun rumah bambu, perlu kesepakatan bersama, konon orang tuaku pergi dua kali ke dukun nama dan satu kali ke Kyai untuk meminta nama atas kelahiranku dan hasilnya Ibuku memberiku nama Sutrisno, indah bukan main nama itu, namun orang kebanyakan lebih suka memanggilku dengan sebutan Tresno, katanya lebih enak diucap dan lebih akrab didengar.

Ah! Ibuku lebih suka kalau aku berteman dengan para Tetua dibanding berkelompok dengan yang lainnya. Dia bilang aku akan dipandang mashur kelak di masyarakat jika mengikuti bimbingan dan petuah-petuah dari para Tetua, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Bapak dan Ibu guru di kelas karena Bapak dan Ibu guru bicaranya sering ngaur dan tidak masuk akal baginya, Ibuku tidak mengerti dengan bahasa-bahasa pengajaran, dengan angka-angka, dengan rumus-rumus apalagi dengan istilah-istilah biologi.

Bagi Ibuku, Bapak dan Ibu Guru itu adalah orang pengangguran yang dibuang dari kota karena kerjanya cuma bicara, merintah, tidur dan cari kembang desa. Sedangkan kalau berteman dengan para Tetua aku nantinya akan bisa berkebun, bisa menangkap ikan raksasa, bisa membantu tetangga membangun rumah, bisa berdagang hasil tangkapan ikan ke pasar, bahkan bisa mendatangkan keberuntungan dengan memerintah jin-jin yang baik hati.

Sedangkan jika berkumpul dengan Bapak dan Ibu guru, Ibu mengira nantinya Aku akan menjadi pembantah dengan segala bahasa-bahasa asing yang tidak dimengerti Ibu, menjadi sok pintar tapi tak bisa turun ke sawah dan membantu tetangga, menjadi pemalas karena hanya bisa minta duit dan tak bisa bekerja....... (Bersambung).

Penulis : M. Rifa'ie