Misteri Wisata Pantai Tewo, Kisah Gantung Diri "Mitos atau Fakta"
Cari Berita

Advertisement

Misteri Wisata Pantai Tewo, Kisah Gantung Diri "Mitos atau Fakta"

Senin, 03 Juli 2017

Gambar Batu yang mirip Seperti orang bergantung diri dalam lingkaran merah (foto : Bimbo) 
Indikatorbima.com - Secara geografis, pantai tewo berada dalam wilayah desa sangiang, kecamatan wera, kabupaten bima. Letaknya tidak terlalu jauh dari desa sangiang. Waktu yang di butuhkan Untuk sampai ke pantai tewo sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

Keindahan Pantai Tewo patut di nikmati oleh para pengunjung atau setiap orang yang akan berkunjung. Suasananya yang tenang, damai, serta sejuk sangat cocok untuk bersantai. Terutama untuk kemping malam bersama. Bisa dibayangkan, bagaiamana rasanya tidur di pinggir pantai di temani suara ombak kecil ketika menjatuhkan diri pada bibir pantai. Diterangi api unggun, diselimuti angin malam. Atau bermalam sembari mancing ikan. Pastinya seru dong. Tapi biasanya para pengunjung hanya memanfaatkan waktu sore untuk berkunjung. Tak ada yang sampai bermalam.
Suasana Wisata Pantai Tewo, beberapa pengunjung sedang menunjuk ke Arah Batu tersebut. (Foto : Bimbo) 
Namun Dibalik Keindahannya yang tersembunyi itu, pantai tewo memiliki cerita misterius. Keberadaan bukit seperti yang ada di gambar menunjukan bentuknya mirip seperti orang yang bergantung diri.

Menurut cerita masyarakat setempat bahwa Batu yang mirip seperti orang bargantung diri tersebut adalah Sisa tubuh seorang ibu dan anaknya yang mengakhiri hidup dengan cara bergantung diri, Saking Lamanya tubuh orang tersebut pun berubah menjadi Batu. tidak ada yang tau pasti tentang penyebab seorang ibu dan anak itu menggantung diri.

Menurut cerita masyarakat setempat, salah satunya pak Amin. Pak Amin mengatakan ada dua cerita yang berbeda mengapa seorang ibu dan anak tersebut menggantungkan dirinya. Yang pertama karna terbelit hutang, dan yang kedua karna melahirkan anak tanpa bapak.

"Ada dua cerita yang berbeda, katanya karna terbelit hutang dan kedua karna malu melahirkan anak tanpa bapak" ujar pak amin.

Sampai dengan hari ini, masyarakat setempat masih ragu tentang kebenaran cerita tersebut. Sebab merekapun hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut.

Pewarta : Bimbo