Memaknai HMI Back To Campus
Cari Berita

Advertisement

Memaknai HMI Back To Campus

Selasa, 11 Juli 2017

Ilustrasi
Kenapa harus ada istilah "HMI Back To Campus" jika kita lihat hal tersebut merupakan salah satu solusi dari berbagai problematika yang sedang dihadapi oleh HMI hari ini dan harus segera mendapatkan jalan keluar agar tidak semakin berlarut-larut.

Istilah tersebut sudah lama dimunculkan untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh HMI di internal kampus atau dengan kata lain dalam masalah akademis kader HMI. Pertanyaannya pakah hari ini HMI sudah benar-benar "Back To Campus"? Atau masih berkutat dengan persoalan internal yang masih belum selesai dan jika memang demikian sampai kapan hal tersebut akan berakhir.

Lahirnya "Intelektual muslim dan muslim yang berintelektual" adalah kader yang diharapkan oleh pendiri organisasi ini. Jargon "Harapan Masyarakat Indonesia" disematkan oleh Panglima Jendral Sudirman terhadap HMI bukan tanpa alasan, karena pada awal berdirinya, HMI memang mampu mempertanggung jawabkan jargon tersebut dengan terus memberikan kontribusi nyata terhadap bangsa ini sebagai kader ummat dan kader bangsa.

HMI mampu melahirkan intelektual-intelektual sehingga HMI dikenal dengan organisasi mahasiswa Islam yang mampu dan pantas mendapatkan julukan sebagai organisasi lumbung intelektual. Itu kondisi emas dimasa lalu, samapai kapan kita akan terjebak dengan nostalgia masa lalu yang gemilang tersebut, bukankah anggota HMI yang hari adalah cermin dari kondisi HMI hari ini pula?.

Jika kita lihat hari ini HMI seperti sedang berada disebuah gurun tandus dengan bayang-bayang fatamorgana, lebih dari puluhan ribu anggota yang masuk organisasi ini akan tetapi kader-kader intelektual yang diharapkan tumbuhnya hanya dapat dihitung jari. Hal tersebut harus menjadi evaluasi bagi internal HMI itu sendiri secara institusi. Lantas bagaimana HMI memaknai istilah "Back To Campus", kehadiran HMI di kampus tidak hanya dimaknai sebagai sebuah upaya menduduki posisi strategis di internal kampus demi menjaga eksistensi agar diperhitungkan dan disegani. Hal tersebut bukan tidak penting, Akan tetapi istilah "HMI Back To Campus" harus dimaknai sebagai langakah konkret dalam memberikan warna baru dengan mengembalikan identitas dan integritas anggota HMI sebagai mahasiswa yang memiliki kapasitas akademis yang lebih daripada mahasiswa pada umumnya yang kemudian dari itu diimbangi dengan pengabdian terhadap masyarakat yang dikatakan dengan aktualisasi nilai, Hal tersebut dapat terwujud apabila komisariat sebagai ujung tombak perkaderan mau bekerja keras dalam melakukan proses kaderisasi.

Proses kaderisasi tidak boleh terkesan kaku. Maka munculnya kader-kader dengan kapasitas akademis yang tinggi akan menjadi nilai tawar tersendiri bagi HMI dan akan mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan diluar internal HMI. Mari kita hitung sudah berapa jumlah kader HMI yang molor dalam menyelesaikan studi mereka dengan alasan sibuk di organisasi. Justru hal tersebut sangat kontradiktif dengan tujuan HMI yg ada, idealnya dengan keaktivan anggota di HMI mampu mempermudah proses mereka dalam meningkatkan kapasitas akademis mereka bukan justru sebaliknya.

Kondisi ini menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap HMI banyak mahasiswa baru yang takut berorganisasi dengan alasan takut kuliahnya terganggu. Hal tersebut menyebabkan sulitnya proses pelaksanaan rekrutmen kader dan berdampak pada jumlah kuantitas kader. Tujuan HMI sendiri merupakan ukuran atau norma dari semua kegiatan HMI.

Dalam konsep perkaderan harus di arahkan dalam rangka mebentuk profil kader yang ideal, yauitu muslim intelektual professinoan. Aspek yang harus ditekankan pertama adalah pebentukan integritas kader sebagai kader yang memiliki kapasitas intelektual atau kemampuan ilmiahnya, kedua, pembentukan watak kader yang mecerminkan sebagai kader muslim dengan berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai Islam dan yang terahir adalah profesionalime kader.

Semoga tulisan ini mampu memberikan banyak manfaat meski masih jauh dari kata sempurns serta menjadi sebuah motivasi bagi kita semua selaku kader Himpunan dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai kader. “Sebuah peradaban dapat dirubah oleh kaum minoritas yang penuh dengan kreativitas”.

Malang, 11 Juli 2017
Penulis : Mas’udi HMI Komisariat Unitri Malang