Kebebasan dan Batas berfikir Menurut Ahmad Wahib, Tanpa Takut Akan di Marahi Tuhan
Cari Berita

Advertisement

Kebebasan dan Batas berfikir Menurut Ahmad Wahib, Tanpa Takut Akan di Marahi Tuhan

Jumat, 07 Juli 2017

Ilustrasi (Foto : Fadelisme-Wodpress.com
Tulisan ini saya kutip dalam buku yang berjudul "Pergolakan Pemikiran Islam" catatan harian Ahmad Wahib, buku tersebut di terbitkan oleh Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi. Di dalamnya memuat beberapa pembahasan menarik tentang pemikiran seorang anak muda yang bernama Ahmad Wahib.

Buku tersebut disusun berdasarkan kumpulan catatan harian Ahmad Wahib tentang segala pemikirannya.

Kebanyakan pemikiran Ahmad Wahib tercurahkan pada seputar masalah keagama'an dan kehidupan sosial masyarakat. Salah satu pemikirannya yang menarik dalam buku tersebut adalah tentang kebebasan berfikir dan batas-batas berfikir.

Berikut saya kutip pemikiran Ahmad Wahib tentang kebebasan berfikir dan terkait batas berfikir yang ditulis dalam buku pergolakan pemikiran islam.

1. Kebebasan Berfikir

Menurut Ahmad Wahib, manusia harus memiliki keberanian untuk berfikir bebas tanpa harus takut di marahi tuhan.

"Ini akal bebasku yang berkata, akal bebas yang meronta-ronta untuk berani berpikir tanpa disertai keta- kutan akan dimarahi Tuhan"

Bagi Ahmad Wahib larangan untuk berfikir bebas merupakan sesuatu hal yang aneh. Menurutnya berfikirnya seorang manusia tak perlu di batasi.

"Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi?"

Ahmad Wahib meyakini, bahwa tuhan tidak akan pernah marah ketika manusia tampil dalam keadaan berfikir bebas. Tuhan ada untuk dipikirkan tentang "Adanya" bukan untuk tidak dipikirkan. 

"Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pe- mikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan adanya."

Ahmad Wahib berpendapat, bahwa Manusia tidak boleh berpura-pura dalam hal kepercayaan. Manusia yang menolak untuk berfikir bebas adalah di anggapnya sedang melakukan penghinaan terhadap tuhan.

"Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan. Tapi menolak untuk berpikir bebas berarti menolak rasionalitas eksistenasinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi"

Menurutnya, Dengan berpikir bebas manusia akan lebih banyak tahu tentang dirinya, tahu tentang kemanusiaannya. 

"Pada hal dengan berpikir bebas manusia akan lebih tahu tentang dirinya sendiri. Manusia akan lebih banyak tahu tentang kemanusiaannya"

Ahmad Wahib sepenuhnya memahami, bahwa berpikir bebas hasilnya tidak selalu benar, dengan tidak berpikir bebas pun hasilnya juga bisa salah. Namun di antara keduanya itu punya potensi untuk menemukan kebenaran baru.

"Dengan berpikir bebas bisa salah hasilnya. Dengan tidak berpikir bebas juga bisa salah hasilnya. Lalu mana yang lebih potensial untuk tidak salah? Dan mana yang lebih potensi- al untuk menemukan kebenaraan-kebenaran baru?"

Pada hematnya, lebih baik salah karna berpikir dari pada salah karna tidak berpikir.

"Pada hemat saya orang-orang yang berpikir itu, walaupun hasilnya salah, masih jauh lebih baik dari pada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir"

Baginya, orang-orang yang tidak mau berpikir bebas adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan karuniah tuhan yaitu otak.

"Saya kira orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyia-nyiakan hadiah Allah yang begitu berharga yaitu otak. Saya berdoa agar Tuhan memberi petunjuk pada orang-orang yang tidak menggunakan otak sepenuhnya"

2. Menemukan Batas Berfikir

Mengenai batas berpikir, Sepenuhnya Ahmad Wahib sendiri menyadari bahwa akal bukanlah sesuatu yang abslotut.

"Saya sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehinga seolah-olah absolut"

Ahmad Wahib juga menyadari bahwa akal memiliki batas, namun ia menginginkan agar otak itu sendirilah yang menemukan batasnya.

"Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tau batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya"

Menurutnya, batas berpikir itu sendiri akan diketahui ketika otak/akal sudah melakukan percobaan- percobaan.

"Batas kekuatan berpikir itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai di sana dan percobaan- percobaan untuk menembusnya selalu gagal"

Ahmad Wahib Sendiri menginginkan agar batas berpikir itu sepenuhnya diserahkan kepada otak untuk menemui batasnya. Otak itulah sendirilah yang berhak menentukan sampai dimana batasnya untuk berpikir. 

"Berikanlah otak itu kebebasan untuk bekerja dalam keterbatasannya, yaitu keterbatasan yang hanya otak itu sendiri yang tahu"

Itulah pemikiran Ahmad Wahib tentang kebebasan berfikir dan batas-batas berfikir. Mudah-mudahan bermanfaat.

Seperti yang diketahui, Ahmad Wahib sendiri telah meninggal dalam usia yang masih muda. Sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi telah me- nabraknya dipersimpangan jalan Senen Raya-Kalilio. Peristiwa itu terjadi tanggal 31 Maret malam tahun 1973. Ketika itu Wahib baru saja keluar dari kantor Majalah Tempo, tempat ia bekerja sebagai calon reporter.

Penulis : Furkan