Festival Gunung Api Sangiang Pertahankan Kearifan Lokal
Cari Berita

Advertisement

Festival Gunung Api Sangiang Pertahankan Kearifan Lokal

Sabtu, 15 Juli 2017

Banner Kegiatan Festival Gunung Api Sangiang
Indikatorbima.com - Sebagai upaya bersama untuk melestarikan Budaya, adat istiadat serta mempertahankan kearifan lokal, Pemerintah Desa Sangiang dan panitia pelaksana akan melaksanakan Kegiatan Festival Gunung Api Sangiang pada tanggal 22 juli sampai dengan tanggal 17 Agustus 2017 di Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Kegiatan besar tersebut memuat beberapa Item kegiatan. Salah satunya lomba sampan layar tradisional. Sabtu, (15/7/17).

Pemerintah Desa Sangiang melalui sekretarisnya, Nasrullah, S.Hut mengungkapkan bahwa kegiatan Festival Gunung Api Sangiang adalah salah satu upaya untuk melestarikan budaya, adat istiadat, serta kearifal lokal desa sangiang. 

"Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya, adat istiadat, serta mempertahankan kearifal lokal. Bahwa desa sangiang punya budaya, adat istiadat, bahkan potensi pariwisata" pungkasnya.

Ketua panitia pelaksana, Abdul Gani Haris, A.Ma.Pd. menyatakan bahwa panitia pelaksana sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan pemerintah desa sangiang dan badan permusyawaratan Desa (BPD) untuk menetapkan jadwal pelaksanaan kegiatan.

"Kami sudah melaksanakan Rapat koordinasi antara panitia pelaksana dengan pemerintah Desa Sangiang, dan BPD terkait dengan jadwal pelaksanaan kegiatan" ujarnya kepada indikator bima ketika ditemui di rumahnya. Sabtu, (15/7).

"Tanggal 22 juli 2017 pembukaan, dengan uji coba bersama semua sampan peserta lomba, harapannya dibuka langsung oleh bupati Bima. Dan penutupan tanggal 17 agustus 2017 sekaligus penyerahan hadiah" tambahnya.

Abdul Gani Haris mengatakan bahwa Festival Gunung Api Sangiang akan Memuat berbagai macam item kegiatan besar, seperti Lomba sampan layar tradisional, lomba sampan mini, lomba melukis gunung sangiang, nggalo ruhu, pameran foto dan kerajinan, jelajah gunung, parade nggoli, nonton bareng, gebiyar kuliner kalempe, nggilo ndiha, kemudian pentas seni dan budaya.

"Ada banyak Item Kegiatan yang akan dilaksanakan, seperti yang tercantum di banner kegiatan" terangnya.

Lebih lanjut Abdul Gani Haris, berharap kepada semua pihak khususnya pemuda dan mahasiswa agar ikut berpartisipasi untuk mensukseskan kegiatan tersebut. 

"Semoga pelaksanaan kegiatan ini dapat terlekasana dengan baik, kami berharap agar semua pihak khususnya pemudan dan mahasiswa ikut serta dalam mensukseskan kegiatan ini" tuturnya.

Semantara, terkait dengan dana untuk pelaksanaan kegiatan Festival Gunung Api Sangiang, Abdul Gani Haris menjelaskan bahwa dana awal sudah di anggarkan oleh Pemerintah desa sangiang melalui ADD Sebanyak 30 Juta rupiah. Dikatakan juga bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Bima juga akan mengucurkan dana sebesar 50 juta rupiah, namun sampai dengan berita ini di tulis, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari dinas pariwisata yang bersangkutan.

"Dari desa sudah menganggarkan 30 juta rupiah, dipotong 10 % untuk pajak. Dari dinas pariwisata sendiri katanya 50 juta rupiah, tapi sampai sekarang belum ada konfirmasi. Jelasnya.

Hidup dan Matinya Budaya Lomba Sampan Layar Tradisional Masyarakat Desa Sangiang

Budaya lomba sampan layar masyarakat Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima NTB. Ternyata pernah fakum selama hampir 17 tahun lamanya, terhitung sejak tahun 2000. Namun, budaya lomba sampan layar masyarakat Desa Sangiang berhasil dihidupkan kembali oleh salah satu mahasiswa jurusan PPKn Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2014 silam.

Menurut keterangan Kepala Desa Sangiang M. Saleh, fakumnya budaya lomba sampan layar masyarakat Desa Sangiang saat itu disebabkan oleh kekecewaan masyarakat peserta lomba sampan terhadap panitia pelaksana yang dianggap gagal dalam menyelenggarakan kegiatan lomba sampan.

"Dulu karena peserta lomba sampan kecewa dengan panitia, hadiah yang dijanjikan tidak sesuai harapan," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh bapak Abdul Ganis Haris salah satu panitia penyelenggara lomba sampan saat itu. Ia mengatakan, bahwa masyarakat peserta lomba sampan kecewa dengan sistem pembagian hadiah yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

"Ya itu dulu sekali sampai mau berkelahi, akhirnya masyarakat tidak mau lagi mengadakan lomba sampan," terangnya.

Sejak saat itu, masyarakat Desa Sangiang tidak mau lagi melaksanakan budaya lomba sampan layar tradisional. Semangat masyarakat hilang, seolah-olah lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang tidak pernah ada atau dilupakan. Sehingga pemuda atau karang taruna, bahkan pemerintah Desa Sangiang mengalami kesulitan dan sempat putus asa untuk mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya lomba sampan layar tradisional itu. Masyarakat tidak lagi berminat melaksanakan lomba sampan layar tradisional.

Tidak hanya itu, sampan layar sebagai alat utama pelaksanaan lomba sampan layar tradisional tidak lagi tersedia, melainkan hanya ada sampan-sampan layar kecil yang digunakan oleh masyarakat untuk mancing ikan. Kendala lainnya yang paling besar adalah, hilangnya minat, semangat, dan kesadaran masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya lomba sampan layar tradisional itu, hampir semua kalangan putus asa.

Namun semua kendala dan tantangan itu, berhasil ditaklukkan oleh salah satu pemuda setempat yang diketahui seorang mahasiswa jurusan/Prodi PPKn (civic hukum) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Inisiatif, tekad dan semangat yang menggebu-nggebu itu lahir dari Furkan (24) tahun.

"Syukur ada adinda Furkan bersama kawan-kawannya, yang mampu menghidupkan kembali budaya ini. Kalau nggak ada mereka, nggak tau bagaimana jadinya budaya ini," tutur Kepala Desa Sangiang.

"Dia mampu melakukan ini untuk masyarakat desa sangiang, dia bangkitkan rasa kepemilikan budaya, dia sosialisasikan pentingnya budaya, Furkan bangkitkan motivasi masyarakat yang saat itu sudah putus asa," cerita Kades.

Masyarakat pun sangat bersyukur dan berterimaksih kepada Furkan, berkat semangat dan tekad yang kuat bersama teman-temannya. Budaya lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang kembali hidup dan berkembang hingga saat ini, bahkan budaya lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang menjadi salah satu icon kebudayaan kebanggaan di Kabupaten Bima, khususnya di Kecamatan Wera, Desa Sangiang.

"Kami sangat bersyukur, Furkan telah membawa perubahan untuk Desa Sangiang. Ia hidupkan budaya yang saat ini sedang tenar dimana-mana, budaya ini sudah menjadi icon yang sangat berarti untuk Bima Khususnya Desa Sangiang. Terimaksih Furkan," ungkap Faisal salah satu peserta Lomba Sampan.


Pewarta : Furkan S.A