(Cerpen) Persekutuan Iblis II
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Persekutuan Iblis II

Minggu, 16 Juli 2017

Ilustrasi (Foto : sjcctimes.com)
Seperti malam-malam sebelumya ketika bintang-bintang menyelimuti malam maka kami pun berkumpul di serambi surau, dongeng tentang tanggal baik untuk turun ke laut, tanggal baik menanam jagung serta sampai kepada memprediksi cuaca esok hari atau bulan mendatang, itulah keahlian para tetua memprediksi sesuatu yang belum terjadi, membaca tanggal lewat hitungan bintang-bintang di langit, memprediksi cuaca lewat pasang surutnya air.

Bapak guruku yang hadir dalam perkumpulan itu hanya mengangguk kecut karena dibuat pusing dengan perkataan-perkataan yang keluar dari mulut para Tetua, baginya perkataan itu tidak masuk akal dan tidak berlandaskan kepada ilmu perbintangan.

Pak Ridwan sebutannya, guru ini cerdik dan pintar bicaranya, di kelas dia mengajar matematika, menurutnya persoalan hidup tidak akan lepas dari masalah matematika, bahkan dia meyakinkan bahwa Tuhan bisa diprediksi dengan matematika yaitu ibarat bilangan maka Tuhan itu adalah bilangan tak terhingga, manusia tidak akan mampu berpikir kepada-Nya.

Namun lagi-lagi orang kebanyakan menyeru Pak Ridwan dengan guru sesat gila akalnya, karena menurut paham orang kebanyakan Tuhan itu tidak bisa disamakan dengan yang lain, apalagi dibandingkan dengan bilangan, Tuhan ya Tuhan, Gusti Allah ya Gusti Allah. Mana mungkin Gusti Allah bilangan, dan orang di desa sependapat Tuhan tidak bisa dipertanyakan, jika dipertanyakan maka Tuhan akan marah dan melaknat desa kami.

“Kamu jangan sampai kemakan hasutan Iblis Nak, Iblis itu pintar bicaranya, dalam hasutannya. Jika manusia termakan hasutan Iblis, maka manusia akan masuk Neraka. Telinganya akan dimasuki timah panas yang panasnya seribu kali lipat dibanding api dunia.” Ibu memberi nasehat, sembari tangannya yang tua itu mencari kutu-kutu kecil di atas kepalaku. 

“Iya Ibu. Saya ngerti”.
“Setan itu juga berupa manusia Nak, manusia yang suka mendusta dan mempermainkan Gusti Allah."
“Iya Ibu. Tresno paham.
“Kelak dia akan dipotong lidahnya dan dijahit mulutnya.” Ibu mendenyut-denyutkan badannya seoalah-olah dia sedang melihat kejadian di alam neraka. “Ibu?”
“Iya Nak,"
“Apakah Pak Ridwan akan masuk neraka? “Huzzz! Tidak boleh membicarakan seseorang. Dosa” Tegas Ibu sembari menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Kemudian Ibu langsung pergi ke dapur untuk memasak nasi. Bersambung......


Penulis : M. Rifa'e