(Cerpen) Persekutuan Iblis 4
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Persekutuan Iblis 4

Selasa, 25 Juli 2017

Ilustrasi (Foto : sjcctimes.com)
Malam begitu larut orang-orang desa tentu sudah membungkus ranjangnya dengan kelambu, berjaga-jaga jika nyamuk tak menyerang badan serta bernyanyi di rongga telinganya, namun pintu rumah masih tetap terbuka, di ruang depan terlihat Ibu sedang nyenyak sedangkan di ruangan tamu masih bergeletakan bibit-bibit jagung bercampur dengan perangkat-perangkat laut seperti jala, pukat dan layar, kurebahkan sekujur tubuhku di atas ranjang, rasanya kedua mata tidak bisa terlelap, sedangkan asa menerawang jauh ke kota yang aku pun sendiri tidak tau tentang bentuk kota, inilah pengembaraan ilusi, barangkali ilusi di dalam ilusi.

Seperti biasanya ketika pagi menjelang dan matahari menggantung di atas gunung orang-orang desa sudah keluar dari rumah bambunya, Ibu-ibu berkumpul di pelataran rumah dan menceritakan mimpinya masing-masing, bermimpi tentang dikejar-kejar iblis, ada pula yang bermimpi menaiki ikan raksasa ada pula yang bermimpi jadi orang kaya dadakan, namun di antara mimpi-mimpi orang desa tak ada satu pun yang bermimpi tentang kota, “Ah! Barangkali aku saja yang bermimpi tentang kota, menaiki mobil-mobil di atas jembatan gantung, terbang ke langit menggunakan pesawat, persis seperti gambar-gambar yang ditujunjukkan Pak Ridwan padaku malam itu.

Pak Ridwan telah membiusku malam itu, dan untuk malam-malam selanjutnya aku dibuat gila memikirkan kehidupan di kota, barangkali memang benar ucapan Ibuku, Pak Ridwan adalah jelmaan iblis yang ingin menghasutku ke dalam Neraka. Neraka Jananam, Ah! Tapi mana mungkin Pak Ridwan itu Iblis, mana mungkin Iblis mengaji Al-qur’an, mana mungkin Iblis bangun tengah malam dan melakukan shalat. Jelas Pak Ridwan bukanlah Iblis.

Penulis : M. Rifa'ie