(Cerpen) Persekutuan Iblis 3
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Persekutuan Iblis 3

Jumat, 21 Juli 2017

Ilustrasi (Foto : sjcctimes.com)
Orang-orang di desaku meyakini hidup ini sudah dirancang Gusti Allah. Segala hal yang terjadi di desa kami, di keluarga-keluarga desa dan di dalam rumah-rumah bambu adalah hasil rancangan Gusti Allah, orang-orang dilarang membicarakan takdir, jika ada yang membahasnya, berarti dia tidak sudi dengan pemberian Gusti Allah, dan dinyatakan sesat gila akalnya.

Sore itu Pak Ridwan mengajakku memburu burung menggunakan senapan angin yang dibawanya dari kota.
“Tresno?”
“Iya Bapak?”
“Hidup itu harusnya seperti burung.”
“Iya bapak.” Aku menggaruk kepala tanda tak ngerti ucapan Pak Ridwan.
“Untuk bertahan hidup burung mesti keluar sarang dan mencari makanan untuk dirinya dan anaknya, binatang pun paham Gusti Allah tidak akan menyuapinya ketika lapar dan memberinya sarang ketika kedinginan. karena Gusti Allah telah menebarkan makanan di jagat raya ini, maka dari itu burung selalu berusaha mencari makanan.” Jelas Pak Ridwan sembari mengisi peluru sanapannya.
Aku berpikir keras mencoba memahami penjelasan Pak Ridwan.
“Begitu juga manusia, dalam hal ini manusia harus meniru burung, berusaha untuk menciptakan takdir, karena Gusti Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa dia merubah dengan tangannya sendiri.
“Baik Bapak. Tresno mengerti.”

Usai tragedi penembakan itu aku pun sering bermain ke balai Pak Ridwan, dan malam-malamku kini diisi oleh petuah-petuahnya, selain di dalam kelas, di sana aku belajar tentang ilmu-ilmu pasti, ilmu ketatanegaraan dan biasanya Pak Ridwan sering menselingi pembelajaran dengan membicarakan kehidupan di kota.

Kota yang tak pernah istirahat diisi oleh manusia-manusia yang ingin menciptakan takdir, kota yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, murid-muridnya berangkat dan pulang sekolah menggunakan kendaaraan canggih, lampu-lampu neon berjajar sepanjang jalan menerangi jalanan kota.

Aku hanya bisa membayangkan saja tentang gedung-gedung itu, tentang orang-orang kota yang tak berendam di lumpur dan di laut, tentang orang kota yang baunya wangi, tentang teknologi-teknolgi canggih yang diimpor dari Negara barat. Pada malam pertama itu jua Aku baru paham ternyada ada Negara lain selain negaraku, Sungguh luas tanah ini pikirku dalam hati.....(bersambung)

Penulis : M. Rifa'ie