(Cerpen) Kota Mbah Karsono
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Kota Mbah Karsono

Sabtu, 08 Juli 2017

Ilustrasi (foto : Fiksiana - Kompasiana) 
Warung kopi sederhana milik seorang janda yang dirintisnya kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu masih ramai, mampu bersaing dengan caffe-caffe yang ada disekitarnya.

Warung mak Ijah terkesan unik, dengan beberapa sentuhan tangan kreatif suaminya mampu memberikan kesan yang dapat menambah daya tarik pelanggan, kesan tradisional menjadi titik tekan desain warung itu.

Beberapa tokoh pewayangan menghiasi dinding dalam, tidak lupa wayang yang terkenal dengan jenakanya sengaja diletakkan di pintu masuk seperti sedang menunggu para pelanggan.

Halaman luar tidak dibiarkan begitu saja sedikit sentuhan mampu meberikan kesan dan kenyaman bagi para pengunjung warung mereka. Banyak makanan tradisional yang di tawarkan dan mereka menjadikannya sebagai menu andalan.

Di bawah pohon mangga yang rindang disamping warung sebagian pelanggan mak Ijah berkumpul seperti Mbah Karsono, pelanggan setia di warung mak Ijah, di waktu sedang menunggu penumpang atau saat sedang beristirahat kopi buatan mak Ijah senantiasa menjadi teman setianya.

Cuaca pagi itu cerah tak ada sedikitpun gumpalan awan putih, kebetulan hari itu Mbah Karsono tidak sendirian, cucunya yang masih berumur sepuluh tahun ikut bersamanya. Mbah Karsono sengaja mengajaknya untuk menikmati kopi buatan mak Ijah dan cucunyapun tidak keberatan dengan ajakan Mbah Karsono. Tidak hanya hari itu Mbah Karsono mengajak cucunya ikut menikmati kopi buatan mak Ijah setiap cucunya liburan sekolah pasti Mbah Karsosno mengajaknya. tentunya tidak hanya sekedar menikmati segelas kopi ataupun beberapa biji gorengan, Mbah Karsono hanya menjadikan momen itu sebagai media dalam mengajarkan banyak hal pada cucu kesanyangannya itu.

Hari itu Mbah Karsono datang lebih pagi dengan alasan ingin menikmati udara pagi yang masih belum tersentuh oleh asap kendaraan. dengan nada dan rawut wajah yang tenang mereka mulai membahas kota yang mereka tempati dia memulainya dengan pertanyaan.
“Nduk, apa yang kamu suka dari kota ini?” tanyanya sambil meleparkan senyum yang tidak bisa menyembunyikan kulit bergarisnya.
“Banyak Mbah”. “Apa saja?” dia mengejarnya penuh penasaran.
“Karena keindahan alamnya dan juga kota ini terkenal dengan kota pendidikan”. Jawab anak itu sambil menunjukkan wajah cerianya yang menggemaskan. mbah Karsono hanya tersenyum melihat tingkah lucu cucunya yang kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya.
“Kamu mau mempelajari budaya dan kearifan lokal yang ada di kota ini?”
“Kenapa anak seusiaku harus mempelajarinya mbah? Bukannya hal itu tidak wajib” cucunya menatap wajah mbahnya dan kemudian dia melepaskan kegelisahannya.
“Jadi seperti ini, kita wajib menjaga kelestarian budaya yang ada di kota ini karena kebudayaan itu merupakan ciri khas dan identitas kita, apalagi kamu yang akan melanjutkan cerita yang ada di kota ini. Jangan sampai budaya itu hilang apalagi di klem oleh orang luar, nenek moyang kita tidak main-main menciptakan hal tersebut, mengerti” tutur Mbah Karsono sembari tangannya meraih kopi yang ada disampingnyanan menempelkan bibir gelas dibibirnya.
“Ingat setelah kamu besar nanti rawat kota ini jangan biarkan tangan-tangan jahat mencemarinya jangan biarkan alam dan moral manusianya hancur meskipun sekarang sudah mulai tidak karuan, kota ini sudah mulai seperti hutan rimba siapa yang kuat dia yang akan berkuasa. Memang benar disatu sisi kota ini banyak menarik turis asing karena wisatanya akan tetapi masih banyak di sudut-sudut kota ini perut-perut busung dan pemukiman kumuh belum mendapat perhatian, sayangi rakyat kecil.” Cucunya seksama mendengarkannya, mbah Karsono kembali menepelkan bibir gelas dibibirnya namun kali ini sedikit berbeda setelah gelas tersebut lepas rokok kretek ditangannya menjadi ganti. Mbah Krsono pun melanjutkan “Di kota ini, penduduknya beragam mulai dari suku dan agama ada disini, jika hendak membantu orang lain jangan pernah memandang suku dan agama mereka. Suku dan agama adalah hal yang paling rentang menimbulkan perceraian maka kamu harus menjaga keberagaman ini jangan mau dipecah belah hormati perbedaan, sebentar kopi mbh habis mbah pesan kopi dulu”.
“Iya mbah” anak itu langsung bergegas menemui Mak Ijah.

Tak lama kemudian kopi pesanan mbah Karsono datang lengkap dengan goreng pisang enam biji besar-besar, sesuai pesanan. Matahari semakin tinggi menaiki tangga langit udara pelan-pelan mulai hangat menyentuh kulit, kendaraan semakin padat memenuhi jalan raya depan warung kopi Mak Ijah memberikan tanda kesibukan kota ini. Semua bergerak untuk memenuhi kewajiban keluarga dengan berbagai macam profesi.

Akhirnya mbah karsono pun beranjak dari tempat duduknya, tangan kirinya masih setia dengan rokok yg sesekali ia hisap penuh nikmat.
"ingat kamu harus terus belajar jangan pernah berhenti atau kamj akan tergilas, dan jangan lupa senantiasalah rendahkan hatimu" pesan mbah Karsono pada cucunya lagi yang kemudian mereka lenyap dibalik kerumunan.

Malang, 03 Juli 2017

Penulis : Mas'udi