Surat Cinta Untuk Ibu "Rasa yang Tertinggal Di balik Jeruji Besi"
Cari Berita

Advertisement

Surat Cinta Untuk Ibu "Rasa yang Tertinggal Di balik Jeruji Besi"

Minggu, 25 Juni 2017

Foto : Istimewa
Kini telah datang sebuah sinar yang begitu terang setelah gelap gulita menguburinya selama beberapa tahun. yang sebelumnya hari-harimu begitu gelap dan kabur untuk melihat dunia yang begitu indah.

Kesedihanpun seolah sudah menjadi teman setiamu dalam hidup dan kehidupanmu, semua orang menjauhimu seakan engkau bukan lagi manusia sosial seperti yang lainnya, terlihat jelas air mata yang mengalir deras membasahi pipimu, sungguh piluh yang berat yang engkau rasakan wahai IBU.

Haripun berlalu begitu cepat. Anakmu yang engkau tangisi selama ini begitu dekat dengan waktu yang Tuhan janjikan yaitu hari dimana dia nanti akan bersahabat lagi dengan dunia ini, hidup layaknya orang hidup, sosial layaknya orang bersosial, dan bahagia layaknya orang yang bahagia.

Wahai IBU tiada yang salah dalam kehidupan ini, tiada yang khilaf dalam kehidupan ini, dan tiada yang disalahkan dalam kehidupan ini, karena semua sudah di atur oleh SANG MAHA PENGATUR yaitu ALLAH SWT.

Engkau dikucilkan disekelilingmu, engkau dihina, dicaci, dan ditertawakan oleh sekelilingmu itu juga semua sudah di tulis oleh SANG MAHA PENGATUR, ku sampaikan sebuah ungkapan yang amat sering dikatakan orang bijak kepada mu wahai IBU “bersabar adalah kunci dari segalanya, kunci dari piluhnya hati, kunci dari panasnya amarah, dan kunci dari seluruh sifat keburukan”.

Wahai IBU, aku memohon ma,af yang sebesar-besarnya kepada mu dan kepada bapak ku, dengan kesekian kalinya lebaran tahun ini lagi anakmu belum bisa bersamamu dan keluarga untuk berbagi senyum dan tawa, tapi do,akan semoga piluh dan ujian ini segera berakhir.

IBU, detakkan jantung ku seakan berkata engkau adalah wanita yang tangguh, wanita kuat, dan wanita selalu ada buat kami anak-anakmu. IBU, ketika engkau membaca sebuah goresan tulisan ini, janganlah bersedih, janganlah risau, dan jangan pula menangis, karena jika engkau menangis maka dunia bagiku terasa gelap, dunia bagiku seolah runtuh, kuatkan aku IBU dengan selalu bahagia, kebahagiaanmu adalah pertanda duniaku hidup kembali, senyum mu adalah semangatku untuk bertahan di tempat ini di balik jeruji besi.

IBU, ku dengar dabalik jeruji besi ini semua orang menceritakan namamu, mengharuamkan namamu, dan tidak tanggung tanggung mereka yang dulu yang mencelamu kini mereka berdatangan ke rumah untuk memberi selamat kepadamu karena anakmu yang pertama berhasil menempuh pendidikan S2 ditanah rerantauan, sedangkan yang aku kenal engkau hanya seorang penjual sayur keliling kampung yang penghasilannya hanya bisa beli sedikit makanan yang murah.

Wahai IBU, kini kami anak-anakmu telah melihat ketangguhanmu, kekuatanmu, dan keistiqomahanmu diatas jalan yang Allah bentangkan sesuai qodratnya. IBU, jika suatu sa,at nanti kita kembali berkumpul, aku ingin memeluk erat tubuhmu, aku ingin bersimpuh dihadapanmu, dan aku ingin berbakti kepada kalian berdua sebagai orang tuaku.

IBU, kami tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas budimu, engkau telah mengandung kami selama Sembilan bulan lamanya lalu menyusui kami selama dua tahun lamanya dan membesarkan kami tanpa minta pamrih, wahai IBU ajarkan kami anak-anakmu ini tentang hati yang kuat sekuat hatimu, ajarkan kami tentang hati yang lembut selembut hatimu, ajarkan kami tentang pikiran yang tenang setenang pikiranmu. IBU, hidup ini adalah pilihan maka pilihlah yang terbaik untuk kehidupanmu.

IBU, hidup ini bagaikan bola yang berputar, ada sa,atnya kita di bawah, dan ada sa,atnya kita di atas. Oleh karena itu IBU, jangan engkau sentuh sifat kesombongan, karena semua sejarah mencatat kesombongan itu membawa kita kepada kehancuran, IBU, jangan pula engkau iri dan dengki kepada orang lain, karena sifat iri dan dengki itu sifat yang Allah benci.

IBU, semua orang di atas muka bumi ini sama nilainya dihadapan Tuhan, yang membedakan kita dengan yang lain adalah kadar ketaqwaannya kepada SANG PENCIPTA, oleh karena itu wahai IBU, aku ingin raih Taqwa itu lalu ku beli syurganya Tuhan untuk mu IBU, karena hanya dengan syurga untuk bisa balas budimu.

Penulis : Firmansyah & Andri Ardiansyah. M.Pd.