Filosofi Mbolo Ro Dampa yang Terlupakan
Cari Berita

Advertisement

Filosofi Mbolo Ro Dampa yang Terlupakan

Rabu, 21 Juni 2017

Foto : Salahudin (Penulis) 
Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, seperti itulah slogan yang pernah disampaikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.

Setiap daerah pada dasarnya memiliki filosofi yang berbeda-beda tergantung pada kondisi ril masyarakat setempat. Begitupun dengan daerah Bima, Daerah Bima punya filosofi yang cukup khas yakni filosofi Mbolo Ro Dampa yang berarti musyawarah mufakat. Namun Filofosi tersebut seakan terlupakan, masyarakat bima lebih mengedepankan perang antara kampung ketimbang melakukan Mbolo Ra Dampa (Musyawarah Mufakat).

Melihat kondisi Bima hari ini seakan kehilangan cara dalam menyelesaikan persoalan-persolannya, terutama yang berkaitan dengan pertikaian antar desa yang berujung pada peperangan. Seolah tampak setiap ada pertikaian antar desa tidak ada cara lain yang bisa di tempuh selain dengan cara peperangan sehingga menimbulkan peresepsi yang buruk untuk Bima. Baik masyarakat Bima sendiri maupun masyarakat luar Bima berstigma bahwa Bima adalah daerah yang identik dengan kekerasan. Tetapi pada dasarnya Bima adalah daerah yang cinta perdamaian. Bima adalah sebuah daerah yang punya filosofi yang khas dalam menyelesaikan setiap pertikaian dan persolan. Sebuah filosofi yang seakan hilang karena perkembangan dan kemajuan zaman di era modernitas yakni filosofi Mbolo Ro Dampa.

Filosofi Mbolo Ro Dampa seharusnya menjadi sebuah acuan yang harus selalu di ingat oleh masyarakat Bima dalam menyelasaikan setiap masalah yang ada tanpa harus berujung dengan peperangan dan kekerasan.

Filosofi Mbolo Ro Dampa memiliki nilai persaudaraan, nilai kebersamaan, nilai silaturahmi, dan nilai etika sopan santun ketika bermusywarah untuk mufakat, agar tidak ada pihak yang merasa di rugikan dan sama-sama mendapatkan keadilan.

Bima tidak didirikan dengan angkat senjata, parang, panah dan tombak, tetapi Bima didirikan atas dasar Mbolo Ro Dampa yang meskipun kala itu Bima yang memiliki banyak daerah yang terpecah-pecah dengan istilah Ncuhi tapi pada akhirnya bisa disatukan.

Kalaupun ada pertanyaan kenapa pada hari ini masyarakat Bima lupa dengan sejarah yang dimilikinya, apa yang salah dan siapa yang harus di salahkan?. Hari ini bukan lagi mencari siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan tetapi pada hari ini yang harus dilakukan adalah wariasan sejarah harus dilestarikan secara turun-temurun melalui cerita orang tua kepada anak-anaknya.

Cerita kedaerahan kini tergantikan dengan cerita fiksi modern yang tidak bermanfaat ketimbang cerita filosfi dan nilai-nilai kedaerahan. Keberadaan cerita modern bukan kemudian dikesampingkan tetapi tetap menjadi pembanding dengan cerita kedaerahan Bima dengan peradaban yang pernah dimilikinya terutama yang berkaitan dengan filosofi dan nilai-nilai kedaerahan sebagai upaya pelestarian serta mendorong kemajuan Bima.

Filosofi kedaerahan yang pada hari ini hilang harus dimunculkan kembali melalui program-program dan gerakan-gerakan yang harus didorong oleh semua elemen, baik pemerintah kota/kabupaten, lembaga swadaya masyarakat maupun institusi pendidikan sebagai upaya untuk melakukan revitalisasi filosofi-filosofi daerah yang terlupakan terkhusus filosofi Mbolo Ro Dampa.

Kalaupun kondisi pada hari ini setiap ada masalah harus diselesaikan dengan peperangan dan kekerasan maka Bima akan menuju di ambang kehancuran dan kemerosotan dalam berbagai aspek serta persepsi yang buruk tentang Bima akan terus berkembang di masyarakat Bima maupun luar Bima.

Penulis : Salahudin