Di Aduk Menjadi Satu Dalam Cinta, Aku Kopinya Kamu Gulanya. (Sebuah percapakan puitis)
Cari Berita

Advertisement

Di Aduk Menjadi Satu Dalam Cinta, Aku Kopinya Kamu Gulanya. (Sebuah percapakan puitis)

Kamis, 22 Juni 2017

Foto : Istimewa
Gula :
Ku seduh kopi diujung malam Menguap habis tak bertuan Perihal satu waktu yg pernah jadi awal cerita antara aku dan kamu.

Di sudut waktu ku maknai arti rindu Bayangmu bergemuruh riuh diujung temu Lekat tatapmu hapuskan sendu Perihal kamu yang menguasai relungku. Bisakah aku menjadi yg satu?

Kopi :
kita begitu berbeda dalam semua. tapi tidak dalam Cinta.

hitamku putihmu, manismu pahitku. tak sempurna pahitku tanpa manismu, tak sempurna hitamku tanpa putihmu.

Itulah alasan kenapa aku dan kau harus bersatu dalam sebuah keluarga. agar sempurna hidup kita. dengan apa kita bersatu? tidak lain dan tiada bukan dengan Cinta, hanya cinta yang mampu menyatuhkan kita.

Kita diciptakan untuk bersatu padu bersua Kasih, kita akan disatukan oleh hangatnya Cinta dalam secangkir mungil.

Perpaduan rasa pahit nan manis itu karna aku dan kau. Tak apa aku pahit, kau manisnya. Perbedaanlah yang menyatukan kita.

Gula :
Ajarkan aku bahasa rasa yang lebih indah dari sekedar tatap senja, Seperti kedipmu yang memanggil cinta.

Tentang hati yang terpaut pada satu nama, namamu yang tak hentinya hiasi relung dinding keras hatiku.

Maafkan aku yg begitu mencintaimu dengan keras kepala. Hanya semogaku kau adalah satu yang tak berujung waktu.

Abadi yang tak berujung sendu. Dan rindu yg memelukku diujung pilu.

Kopi :
Aku milikmu, hatiku memang aku tuannya.

Hatiku ditugaskan untuk membolak mbalikan yang baik menjadi tidak baik, itulah tugasnya yang pokok dari sang khalik, Tapi tau kah engkau, bahwa ia terlalu berpihak padamu.

Hatiku tak bisa menolak hadirmu, ia terlalu tulus padamu Kasih, bahkan tuannya bukan apa2 tanpamu.

Kau tak perlu minta maaf, ia pun terlalu mencintaimu, hingga ia tak pernah menganggapmu salah, sekalipun kau salah, kau selalu benar di matanya. mata hatiku.

Gula :
Kepada kamu yang menawarkan kebersamaan Ku harap tak sekedar datang.

Semogaku kini adalah namamu Maka tinggallah dalam setiap hembus nafasku.

Peluk aku dengan apapun yg bisa hapuskan luka lalu Dan katakan padaku bahwa aku menjadi yg satu Karena entah kapan, aku akan mengatakan bahwa kamu adalah sebuah pemberhentian dari perjalanan hati.

Kopi :
Dengarlah wahai hatimu yang suci nan tulus. Aku satu dan utuh untukmu, aku dekat mendekapmu, bahkan lebih dekat daripada urat nadimu.

Lukamu derita di atas deritaku, semogamu adalah penemuan, maka berhentilah melangkah dalam sebuah pencarian.

Marilah melangkah bersama, membina mendidik keluarga di atas rumah tangga samawa, aku harap ruang dan waktu bukanlah batas.

Gula :
Jika malammu pekat Biarkan aku jadi pagi yang hangat Meski sekedar lewat tatap Kupastikan kau takkan rasakan senyap Karena aku mencintaimu tanpa sekat.

Kopi :
Kau tidak hanya pagiku ketika membuka mata, tapi kau juga senjaku ketika lelah ingin menutup mata. Kau ada di antara semua keadaanku.

Gula :
Maka mari kita namai segala waktu dengan langkah serta degup yang hanya untuk kita. Lekas, segera . Jangan berhenti.